Menurut penilaian Kepala Divisi Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat LP3ES, Mudaris Ali Masybud, P2KP tak ubahnya kelanjutan dari program Inpres Desa Tertinggal (IDT) yang digulirkan pada tahun 1996. Bedanya, sasaran IDT adalah masyarakat perdesaan, sementara sasaran P2KP adalah masyarakat miskin perkotaan.
Saat itu, menurutnya, program IDT mampu mengurangi jumlah angka kemiskinan di perdesaan. Lantas bagaimana dengan P2KP? Mudaris mengaku belum menemukan keberhasilannya. Hanya saja ada persamaannya, di mana ada pembentukan kelompok, yang kemudian kelompok itu mendapatkan dana bantuan untuk usaha.
Namun, Mudaris mengakui program P2KP lebih unggul dibanding program-program pengentasan kemiskinan lainnya. Salah satu kelebihannya, dari sisi kesiapan manual dan instrumen di lapangan. Manual yang disajikan sangat rinci.
Cuma sayang, manual itu disajikan secara kaku. Akibatnya bisa menyesatkan. Terlebih bila manual itu tidak tersosialisasi secara baik oleh fasilitator di lapangan. Di samping manual,untuk sementara ini database program juga relatif baik.
Soal pelaksanaan dilapangan, secara umum P2KP dilaksanakan secara tergesa-gesa. Dalam waktu yang cepat ingin menyalurkan dana yang cukup besar. Akibatnya tidak ada persiapan sosial yang memadai sebagai program pemberdayaan. Misalnya KSM, bukan merupakan kelompok yang solid tapi lebih sebagai prasyarat untuk memperoleh dana. Demikian juga BKM, belum bisa dikatakan sebagai institusi yang siap menyeleksi usulan dan mengelola dana berputar yang jumlahnya begitu besar. BKM masih menghadapi problem legitimasi dari masyarakat luas. Karena ketergesaan-gesaan, personalia BKM tidak ditunjuk secara demokratis sebagaimana tujuan P2KP.
Selanjutnya, dari evaluasi LP3ES di DKI Jakarta, ditemukan berbagai penyalahgunaan wewenang dan penggunaan. Beberapa pelanggaran yang ditemukan antara lain (a) sosialisasi program yang tidak meluas dan transparan, sehingga diindikasikan hanya sampai kepada orang-orang dekat (teman, saudara, tetangga) dari lurah, RW atau RT; (b) distribusi bantuan hanya kepada orang dekat dan bukan orang miskin (penghasilan mereka di atas Rp 500.000); (c) adanya kesan dari masyarakat P2KP sama dengan program JPS yang membagi-bagikan uang kepada masyarakat, dan masyarakat tidak perlu membayar/mengembalikan. Pendek kata program pemberdayaan masyarakat miskin, tidak harus dengan memberikan modal. "Tidak semua orang berjiwa wiraswasta," kata Mudaris.
Sebenarnya membantu orang miskin bisa dengan cara membantu usaha/institusi usaha yang jelas- jelas bisa menyerap angkatan kerja miskin. Namun, dengan catatan, program harus menjadikan orang miskin "kuat" di hadapan pengusaha dan pemerintah sehingga tidak dimanfaatkan mereka. Oleh sebab itu, tidak kalah pentingnya adalah memperkuat kelembagaan dan solidaritas orang miskin agar bisa mengatasi persoalannya sendiri.
Kritikan tajam, datang dari Ketua Asosiasi Konsultan Pembangunan Permukiman (AKPPI) wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, Muchtar Bahar. Katanya, secara konsep P2KP, bagus. Tetapi, pelaksanaan P2KPtidak terintegrasi dengan program-program penanggu-langan kemiskinan lainnya, seperti PDM-DKE, JPS Kesehatan dan lain sebagainya. Akibatnya, terjadi kebingungan dalam masyarakat. Mengapa ada program ini dan program itu. "Ujung-ujungnya, mereka menganggap ini program bagi-bagi duit, dan tak perlu dibayar," kata Muchtar Bahar.


Kunjungan lapangan bersama Drs. H.Ibnu Subiyanto, Akt, Bupati Sleman pada tanggal 6 dan 7 Februari 2005 yang lalu memberikan sejumlah manfaat memperkaya pengalaman nyata. Petikan pengalaman itu ditulis dalam beberapa topic, yang pertama adalah “Dari Sleman Untuk Aceh” yang telah dimuat di situs
Masyarakat di 4 Desa yang terbagi dalam 91 dukuh di kecamatan Berbah, Kabupaten sleman telah mampu menggali swadaya masyarakat untuk kegiatan peningkatan kualitas lingkungan. Dana Gotong Royong (DGR) yang diberikan oleh Pemda Kabupaten Sleman sebesar Rp 92,8 juta telah berhasil menggerakkan swadaya masyarakat yang mencapai Rp. 591,1 juta. Kegiatan peningkatan kualitas lingkungan itu berupa pengaspalan jalan lingkungan, pemasangan conblock jalan desa, pemasangan talut saluran, pengerasan jalan dan juga rehabillitasi sarana ibadah, Mesjid.
Misalnya di desa Sangrahan sedang berlangsung pemasangan conblock di beberapa lokasi . Di Dukuh Sangrahan Krikilan, berlangsung telah selesai pemasangan conblock di jalan lingkungan sepanjang 1110 m2 dengan dukungan dana P2PMD Rp. 25,2 juta dan berhasil menggalang partisipasi masyarakat sebesar Rp. 18 juta. Demikian juga di dukuh Berbah kelurahan Tegal Tirto rampung peningkatan kualitas jalan lingkungan dengan pemasangan conblock 2.200 m2. Dana stimulasi diperoleh dari PT Angkasa Pura Rp 6 juta dan sebanyak Rp. 45,25 juta dari swadaya masyarakat.
Berhasilnya penggalangan dana masyarakat sebesar itu dengan beberapa cara dan tidak hanya dalam bentuk dana tunai, diantaranya adalah “Gotong Royong semua warga di bagi dalam kelompok se-usai mereka bekerja , jam 17.29.30 setiap hari, secara bergiliran. Setiap kelompok rata-rata 75 orang, pada hari libur mencapai 150 orang. Konsumsi dukungan dari Ibu PKK”, Tutur H M Jufri, Lurah Desa Tegal Tirto. Pengumpulan dana dari masyarakat dalam beberapa lain, seperti akumulasi dari dana ronda, dana jimpitan Rp 500 per keluarga, dana iuran bulanan, dana iuran kendaraan roda empat dan gerakan penggalangan dana secara khusus, tambah Lurah Tegal Tirto.
Realisasi kesawadayaan masyarakat di berbagai dusun itu, didorong oleh penyediaan Dana Bantuan Gotong Royong yang disiapkan Pemda Sleman. Penyediaan DGR adalah sebuah inisiatif dalam APBD Kabupaten sejak tiga tahun yang lalu. DGR ini disiapkan untuk tiap dusun sebesar Rp 1 juta pada tahun 2003, kemudian pada tahun 2004, Rp 2.250.000 per dusun dan pada tahun 2004 sebesar Rp 2,5 juta per dusun. Tahun 2005 ini masih dalam pembahasan DPRD Kabupaten Sleman, paling tidak sama dengan tahun 2004.
Dalam kunjungan lapangan yang berlangsung Ibnu Subiyanto membeberkan stimulans lanjutan dalam bentuk aspal dan semen. Pemberian aspal berkisar antara 25 hingga 75 drum dan semen berkisar dari 50 hingga 150 sak, yang disesuaikan dengan volume kegiatan yang sedang dijalankan oleh masyarakat. Sebagai contoh untuk pembuatan talud di Karang Asem, Sekarsuli, Desa Sendang Tirto, diberikan bantuan 100 sak semen Untuk program pengaspalan jalan di Dusun Klancingan, Widodo Mardan, diberikan bantuan 30 drum aspal. Bantuan berikutnya 30 drum aspal akan diberikan oleh Bupati, bilamana pengerjaan jalan oleh masyarakat rampung dan dengan hasil baik.
Barangkali banyak makna yang tersirat dalam kegiatan swadaya masyarakat di berbagai dusun di Kabupaten Sleman, yang didorong oleh dukungan pemerintah daerah. Makna utama adalah, bahwa masyarakat mempunyai kesadaran untuk menata lingkungannya sendiri. Kesadaran yang telah ada semakin berlipat ganda dalam berbagai bentuk, baik dalam kontribusi tenaga untuk gotong royong, iuran regular dan kontribusi spontan. Dipihak lain, kondisi dan dinamika yang telah tercipta di tengah masyarakat itu, semakin meningkat dengan adanya apresiasi dan dukungan oleh pemerintah. Dalam hal ini Pemda Kabupaten Sleman, memberikan apresiasi & dukungan dalam penyediaan DGR, bantuan aspal, semen dan stimulans lainnya.