Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013

GERAKAN ORANG TUA ASUH SMP ISLAM TERPADU AL MUTTAQIN


Wakaf dan Keswadayaan
SMP Islam Terpadu  (SMPIT) Al Muttaqin bermula dari wakaf tanah seluas 6000 m2 dan sebuah Mesjid dari keluarga Alpianto Paramudyta pensiunan BATAN, tinggal di Ciputat. SMIT ini berada  di Desa Sukajadi, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Wakaf diserahkan kepada IKBAL AMM Sumbar Jaya dan selanjutnya diamahkan kepada YPMUI sebagai pelaksana kegiatan IKBAL AMM Sumbar Jaya, pada tahun 2001.


Sejak tahun 2002 dirintis pembangunan sarana pendidikan dan fasilitas penunjang dengan dukungan para perantau Minangkabau dan bantuan Pemerintah. Saat ini SMIT Al Muttaqin memiliki 12 ruang kelas berlantai dua, Lab.Bahasa, perpustakaan, ruang komputer, ruang guru, kantor, sarana olah raga dan fasilitas untuk PAUD.

Defisit  Biaya Operasional

Murid SMPIT Al Muttaqin saat ini 220 orang terbagi dalam 9 kelas, telah memperoleh Akreditasi A.  Dalam 5  tahun terakhir tingkat kelulusan UAN 100 %. Tenaga pendidik dan tata usaha, 24 orang (termasuk 3 orang tata usaha, penjaga sekolah dan kebersihan). Sejak 7 tahun terakhir telah menerima dana BOS  dari APBN  dari Provinsi Jawa Barat. Dana BOS yang diperoleh dan dukungan berbagai donator, belum mencukupi biaya operasional SMIT. Setiap triulan dengan 220 siswa menerima dana BOS Rp 39.050.000 juta, sementara biaya operasional termasuk honor gunu untuk tiap triulan Rp. 76 juta. Honor guru dan manajemen sekolah hanya Rp. 600.000 hingga Rp. 1.300.000 setiap bulan. Sehingga terjadi defisit Rp. 45 juta (Rp.15 juta/bulan). SPP dari siswa hanya Rp 20.000-Rp.30.000/bulan dan hanya dapat dihimpun 50 %, karena kondisi keluarga mereka yang tergolong kurang mampu.

Bentuk Dukungan

Bentuk dukungan yang diperlukan untuk kelangsungan proses ajar mengajar dan peningkatan kualitas hasil pendidikan antara lain:

·         Orang Tua Asuh sebesar Rp. 50.000/bulan/siswa
·         Buku bacaan popular dan keagamaan untuk perpustakaan
·         Perbaikan dan penggantian kursi dan meja
·         Kegiatan ekstra kurikuler siswa
·         Relawan untuk kegiatan hari Sabtu dan ekstra kurikuler 


Terima kasih atas dukungan yang diberikan, semoga Allah memberikan berbagai kemudahan dan nikmat yang tiada batas.

YAYASAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT UTAMA INDONESIA (YPMUI).
Akte Notaris; Helmy Panuh,SH.27-5-2003-Akta perubahan 21-3- 2013. SK Kemenhumham. C-1060.HT.01.02.TH 2004

Kontak & Informasi

H.Muchtar Bahar, 0811104249 - H.Agusri Said.S.Sos, 087878149640  -  Hj.Yulna Zein, SH, 0811174958,
Yulianto Syahyu,SH.MH, 08111778017 -  Ir.H.Taufik Bey,085282897139 –  H. Albazar Arif,
Drs.H. Farhan Muin Dt Baggindo Msi, 081384422254  -  Ir.H.Januar Muin, 0811820797
Donasi an bantuan dapat di transfer  ke rekening  :  Bank Mandiri   An. Muchtar Bahar-YPMUI   Rek No. 118 00 8884448 4

Rabu, 30 Juni 2010

CATATAN KEPEDULIAN AKIBAT GEMPA SUMBAR



Gempa Bumi terjadi di Pariaman Provinsi Sumatera Barat dengan kekuatan 7.6 SR yang berpusat di laut dengan kedalaman 71 KM. Gempa Bumi terasa sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, dirasakan akibatnya di kota Medan, Aceh, Palembang, Jambi dan Pekanbaru. Gempa yang terjadi 30 September 2009, jam 17.16 itu telah mengakibatkan hancurnya perumahan, fasilitas umum, kantor pemerintahan dan fasilitas ekonomi.

Catatan sementara hingga 10 Oktober 2009 Hasil assesment relawan Muhammadiyah di Kabupaten Pariaman misalnya, telah mengakibatkan 431 orang meningal dan 322 orang luka berat, 133 Fasum rusak berat dan 33 lainnya rusak sedang, sebanyak 748 rumah ibadah rusak berat an 225 rusak sedang, 104 kantor rusak berat, 257 sekolah rusak berat dan 87 lainnya rusak sedang. Jumlah rumah yang rusak berat 70.608 buah, rusak sedang 11.407 buah dan rusak ringan 4.751 buah.

Dengan kondisi serupa di Kota Pariaman tercatat 32 orang meningal dan 88 orang luka berat. 27 fasum rusak berat, 125 rumah ibadah rusak berat dan 33 rusak sedang. Jumlah kantor yang mengalami rusak berat 35 buah dan rusak sedang 26 buah. Sementara itu, sebanyak 39 sekolah rusak berat an 21 rusak sedang dan 12.760 rumah penduduk rusak berat, 2.876 rusak sedang dan 2.531 buah rusak ringan.

Anak anak di lokasi gempa dengan lingkungan yang rusak, sekolah yang tidak dapat digunakan dan anggota masyarakat yang meninggal, terluka; mengalami persoalan psiychis, takut akan terulang gempa, takut sekolah, pendiam dan akibat sosial lain. Mereka inilah yang menjadi fokus dari Children Crisis Centre yang di-inisiasi oleh Yayasan BMS dan IKBAL AMM Sumbar Jaya. Dengan harapan melalui layanan ini dapat diberikan pertolongan pertama (emergency) pada anak anak untuk mencoba mengurangi akibat gempa, baik berupa gangguan psychis dan behavior pada anak anak yang menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD-gangguan stress pasca trauma)

Kegiatan layanan bagi anak yang terkena musibah gempa di Sumatera Barat untuk tahap I, telah berlangsung sejak 11 hingga 25 Oktober 2009 yang lalu, berjalan dengan lancar. Kegiatan dilaksanakan di 9 lokasi yang berada di Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Pariaman dan Kabupaten Agam. Jumlah anak yang dilayani hampir 700 anak dan ratusan keluarga yang ikut serta.

Lingkup kegiatan yang dilaksanakan adalah:
· Melaksanakan berbagai kegiatan art therapy (melukis, menggambar, mengarang)
· Melaksanakan cognitive therapy (olah raga, group support dll)
· Melaksanakan expressive therapy (menulis, menyanyi, menari, dll).
· Memberikan hiburan yang bersifat edukatif (game, canda, lawak dll)

Berlangsung nya kegiatan tersebut tentunya karena dukungan donasi dan doa berbagai pihak dan masyarakat yang peduli atas musibah ini. Keikhlasan dan motivasi relawan dari Jakarta dan dari Padang, dan redha Illahi merupakan kunci utama atas berjalannnya kegiatan ini. Mereka itu adalah tujuh relawan yang datang dari Jakarta dalam dua pemberangkatan serta dua relawan setempat.

Hingga 30 Oktober 2009 donasi dan dukungan yang diterima mencapai Rp. 30.005.000 dan telah dikeluarkan untuk kegiatan ini sebesar Rp.21.337.515, dengan saldo Rp.8.667.485. Saldo ini direncanakan akan digunakan untuk kegiatan Tahap II, dalam bentuk yang sama dengan kegiatan tahap I, yakni memberikan pemulihan psychologis dalam bentuk simulasi, dialog pastisipatif, nyanyi-canda, sulap, menggambar, mengarang dan berbagai lomba edukatif.

Sejalan dengan itu, kegiatan Tahap II dan lanjutan akan difokuskan pada penyiapan sarana bermain dan perpustakaan anak di lokasi prioritas, sehingga akan memberikan motivasi dan dorongan semangat bagi anak anak untuk belajar lebih giat. Ini merupakan harapan dari anak anak dan juga permintaan orang tua mereka. Untuk setiap unit Sarana Bermain dan Perpustakaan diperlukan biaya sekitar Rp 12.500.000. Data sementara yang dikumpulkan berdasarkan pengalaman kegiatan tahap I yang lalu dan usulan Posko Gempa di empat Kabupaten/Kota, Sumatera Barat, diperlukan paling kurang 25 Unit Sarana Bermain dan Perpustakaan.

Anak anak berdoa ” Ya Allah berikan lah redha Mu kepada orang orang yang peduli membantu kami” pada setiap akhir acara di semua lokasi kegiatan. Doa ini juga kami panjatkan agar dalam kegiatan mendatang berbagai donasi dan dukungan diberikan imbalan pahala dari Allah Swt."

Seusai doa diungkapkan, seorang ibu dengan anak yang di gendong di pengungsian Sungai Batang, bertanya " Kapan kembali lagi ?. Pertanyaan tersebut terasa menyentak kalbu. Kami hanya mampu menjawab " Insya'allah nanti ", dengan nada rendah sambil berpikir panjang dan manarik nafas dalam.

Harapan kami adalah donasi dan dukungan yang telah diberikan sebelumnya dapat dilanjutkan dalam kegiatan selanjutnya.

Jumat, 16 November 2007

Porgram Tidak Terintegrasi;Wawancara dengan P2KP

Menurut beberapa aktivis LSM, pelaksanaan P2KP di lapangan sudah cukup baik. Sayangnya, program ini tidak terintegrasi dengan program pemberdayaan masyarakat lainnya.

Menurut penilaian Kepala Divisi Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat LP3ES, Mudaris Ali Masybud, P2KP tak ubahnya kelanjutan dari program Inpres Desa Tertinggal (IDT) yang digulirkan pada tahun 1996. Bedanya, sasaran IDT adalah masyarakat perdesaan, sementara sasaran P2KP adalah masyarakat miskin perkotaan.

Saat itu, menurutnya, program IDT mampu mengurangi jumlah angka kemiskinan di perdesaan. Lantas bagaimana dengan P2KP? Mudaris mengaku belum menemukan keberhasilannya. Hanya saja ada persamaannya, di mana ada pembentukan kelompok, yang kemudian kelompok itu mendapatkan dana bantuan untuk usaha.

Namun, Mudaris mengakui program P2KP lebih unggul dibanding program-program pengentasan kemiskinan lainnya. Salah satu kelebihannya, dari sisi kesiapan manual dan instrumen di lapangan. Manual yang disajikan sangat rinci.

Cuma sayang, manual itu disajikan secara kaku. Akibatnya bisa menyesatkan. Terlebih bila manual itu tidak tersosialisasi secara baik oleh fasilitator di lapangan. Di samping manual,untuk sementara ini database program juga relatif baik.

Soal pelaksanaan dilapangan, secara umum P2KP dilaksanakan secara tergesa-gesa. Dalam waktu yang cepat ingin menyalurkan dana yang cukup besar. Akibatnya tidak ada persiapan sosial yang memadai sebagai program pemberdayaan. Misalnya KSM, bukan merupakan kelompok yang solid tapi lebih sebagai prasyarat untuk memperoleh dana. Demikian juga BKM, belum bisa dikatakan sebagai institusi yang siap menyeleksi usulan dan mengelola dana berputar yang jumlahnya begitu besar. BKM masih menghadapi problem legitimasi dari masyarakat luas. Karena ketergesaan-gesaan, personalia BKM tidak ditunjuk secara demokratis sebagaimana tujuan P2KP.

Selanjutnya, dari evaluasi LP3ES di DKI Jakarta, ditemukan berbagai penyalahgunaan wewenang dan penggunaan. Beberapa pelanggaran yang ditemukan antara lain (a) sosialisasi program yang tidak meluas dan transparan, sehingga diindikasikan hanya sampai kepada orang-orang dekat (teman, saudara, tetangga) dari lurah, RW atau RT; (b) distribusi bantuan hanya kepada orang dekat dan bukan orang miskin (penghasilan mereka di atas Rp 500.000); (c) adanya kesan dari masyarakat P2KP sama dengan program JPS yang membagi-bagikan uang kepada masyarakat, dan masyarakat tidak perlu membayar/mengembalikan. Pendek kata program pemberdayaan masyarakat miskin, tidak harus dengan memberikan modal. "Tidak semua orang berjiwa wiraswasta," kata Mudaris.

Sebenarnya membantu orang miskin bisa dengan cara membantu usaha/institusi usaha yang jelas- jelas bisa menyerap angkatan kerja miskin. Namun, dengan catatan, program harus menjadikan orang miskin "kuat" di hadapan pengusaha dan pemerintah sehingga tidak dimanfaatkan mereka. Oleh sebab itu, tidak kalah pentingnya adalah memperkuat kelembagaan dan solidaritas orang miskin agar bisa mengatasi persoalannya sendiri.

Kritikan tajam, datang dari Ketua Asosiasi Konsultan Pembangunan Permukiman (AKPPI) wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, Muchtar Bahar. Katanya, secara konsep P2KP, bagus. Tetapi, pelaksanaan P2KPtidak terintegrasi dengan program-program penanggu-langan kemiskinan lainnya, seperti PDM-DKE, JPS Kesehatan dan lain sebagainya. Akibatnya, terjadi kebingungan dalam masyarakat. Mengapa ada program ini dan program itu. "Ujung-ujungnya, mereka menganggap ini program bagi-bagi duit, dan tak perlu dibayar," kata Muchtar Bahar.

Wawancara dengan ADinfo

H. Muchtar Bahar,Ingin Hidup Lebih Lama untuk Memberi
Matahari sedang terik-teriknya bersinar 3 Mei lalu. Siang yang panas itu tim AdInfo meluncur ke salah satu jalan di daerah Kembangan Selatan, tidak jauh dari gedung kantor Walikota Jakarta Barat yang berdiri megah. Di sebuah jalan bernama Kampung Bugis, terdapat sebuah rumah bercat putih bernomor 33. Tidak terlihat ada kegiatan di dalam maupun sekitar rumah tersebut, hanya terlihat mobil kijang putih metalik dan dua buah sepeda motor yang terpakir di luar halaman depan rumah tersebut.


Rumah yang terlihat sederhana itu merupakan kantor dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, yakni Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS). Untuk kegiatan yang mencakup wilayah Jakarta, BMS berkantor di rumah yang merangkap sebagai taman bacaan anak-anak tersebut. Beberapa kegiatan BMS yang telah ada di wilayah Jakarta Barat seperti kegiatan lingkungan, kesehatan balita, pendidikan dan taman bacaan untuk anak-anak selama ini telah berjalan cukup baik. Membicarakan BMS sendiri tidaklah lepas dari peran serta dan kehadiran dari seseorang. Ia merupakan salah satu pendiri yang bernama H. Muchtar Bahar. Seorang aktivis sosial yang sudah cukup lama bekerja di dunia pemerhati kesejahteraan sosial dan masyarakat. Pria berkacamata yang pada hari itu mengenakan kemeja bermotif garis-garis sederhana tersebut menyambut kehadiran AdInfo dengan ramah.Sebelum mendirikan BMS, pria kelahiran Lawang, Sumatera Barat, 4 Januari 55 tahun yang lalu ini, pernah mendirikan dan mengetuai beberapa organisasi sosial lainnya, seperti Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sosial Ekonomi (LPPSE).

Dilahirkan dan dibesarkan di tanah Sumatera, telah menumbuhkan sikap yang gigih dan pekerja keras untuk berkembang dari sosok yang satu ini. Pria ini menyelesaikan pendidikan dari sekolah dasar sampai mendapat gelar sarjana dari Universitas Islam Negeri di Padang.Dengan latar belakang sebagai sarjana pendidikan agama, selama setahun Bahar menjadi guru di Padang. “Mengikuti jejak paman,” ujar pria yang pernah mengikuti beberapa pendidikan tingkat post-graduate di Belanda, Thailand dan Philipina ini.


Setelah merasa sudah cukup puas mengajar selama setahun, pria beranak lima ini merantau ke Jakarta, menyusul kepergian kakak laki-lakinya yang telah terlebih dahulu pergi. Perkenalan pertama Bahar dengan kegiatan sosial adalah ketika ia bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) selama 12 tahun. Di lembaga tersebut, Bahar mulai mencintai pekerjaannya sebagai pekerja sosial yang selalu berhubungan dengan penelitian dan kepedulian dengan masyarakat. Sampai-sampai pekerjaan sebagai pegawai negeri yang pernah ditawarkan kepadanya tidak diambilnya.Keputusan-nya untuk terjun sebagai aktivis sosial tidak terlepas dari masa lalu yang ia alami. Kehidupan yang cukup keras telah ia rasakan sejak saat itu. “Itulah mengapa saya ingin membantu anak-anak jalanan. Karena saya juga pernah menjadi anak jalanan waktu dulu,” katanya.” Keuletan dan kegigihan telah ditunjukannya sejak ia masih berusia muda. Dari menjual koran sampai membantu ibu berjualan di pasar telah dikerjakannya sejak masih kecil hingga menjadi seorang mahasiswa. “Malu juga saya kalau ketemu teman mahasiswa saat membawa kerupuk untuk berjualan di pasar,” katanya sambil tersenyum mengingat pengalaman masa mudanya itu.


Kini pria yang beristrikan wanita bernama Yulinar Ismail ini, mengetuai BMS sejak pendirian lembaga tersebut pada 25 November 1995. Pria yang biasa di panggil “babe” oleh kalangan aktivis sosial lainnya ini, berkeinginan membesarkan peran serta BMS di dalam membangun kesejahteraan masyarakat kecil.


Dia ingin berumur panjang agar dapat memberikan kepada masyarakat sesuatu yang berguna.Bahar berharap lembaga yang ia pimpin suatu saat dapat menjadi lembaga independen dalam memantau program pemerintah (DKI) di dalam penyusunan maupun pelaksanaan program yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan akronim dari BMS sendiri: Bina Masyakat Sejahtera.
ADInfo, Jakarta Barat, Edisi 17, Mei 2005.