Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2018

DI LANGIT MASIH ADA BINTANG














Buku “Dilangit Masih Ada Bintang”  salah satu diantara sekian banyak karya Endang Basri Ananda (EBA), telah diterbitkan tahun 1976 oleh Penerbit Bulan Bintang.  Substansi buku ini masih sangat relevan dengan kondisi kekinian Umat, khususnya para remaja

Dengan 21 Sub Judul dalam buku ini, tebal 130  halaman (16 x 21 cm) disebut oleh Dr. Hj Zakiah Drajat sebagai bacaan yang tepat dibaca para remaja muslim saat ini.  Disamping menjadi bahan bagi orang  tua yang memiliki anak-anak yang berada dalam usia pertumbuhan.

Buku ini dicetak ulang, dengan edit serta penyempurnaan oleh penulis, dan diharapkan dapat menjadi kerja bareng kita semua. Bersama warga SPS dan sekitarnya, organisasi keagam Buku “Dilangit mASIH aDA Ada Bintang”  salah satu diantara sekian banyak karya Endang Basri Ananda (EBA), telah diterbitkan tahun 1976 oleh Penerbit Bulan Bintang.  Substansi buku ini masih sangat relevan dengan kondisi kekinian Umat, khususnya para remaja

Dengan 21 Sub Judul dalam buku ini, tebal 130  halaman (16 x 21 cm) disebut oleh Dr. Hj Zakiah Drajat sebagai bacaan yang tepat dibaca para remaja muslim saat ini.  Disamping menjadi bahan bagi orang  tua yang memiliki anak-anak yang berada dalam usia pertumbuhan.

Buku ini akan dicetak ulang, dengan edit serta penyempurnaan oleh penulis, dan diharapkan dapat menjadi kerja bareng kita semua. Bersama warga SPS dan sekitarnya, organis aan, organisasi peduli umat dan lembaga lain dengan tujuan mulia, mempersiapkan generasi muda yang lebih baik.



AL hamdulillah atas dukungan yang diberikan untuk penerbitan ulang “Di Langit Ada Bintang” ini, terutama kepada; Yayasan Insan Kamil, Puri Indah, Jakarta Barat, Yayasan Silaturrahmi, Puri Indah Jakarta Barat, Yayasan Amal Bhakti Al Hurriyah, Jakarta Barat,Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS Foundation), Jakarta Barat,Yayasan Pembangunan Msyarakat Utama Indonesia (YPMUI), Jakarta,


 Kami sampaikan terima kasih atas ketulusan yang diberikan oleh  Hj. Elah Karmilah Bandung, H.Pandu Wijaya, Blok B, Puri Indah, H. Edy Wibowo, Blok B, Puri Indah, Altos Pebrianto dan Ibu Windrati, Blok D, Puri Indah,  H. Zulkarnain Djamin, Blok C, Puri Indah, H.M. Yasin Rahman, Blok H 4, Puri Indah, Indah, H.Maymaran NS , Blok B, Puri Indah serta komunitas muslim Puri Indah dan sekitarnya, Jakarta Barat,   atas  donasinya untuk penerbitan buku ini.

BERSAMA MASYARAKAT, MENATA KOTA

Pengalaman lapangan dalam pemberdayaan masyarakat demikian berharga. Karena sering kekeliruan yang dibuat sebelumnya  berulang kembali. Baik pada tatanan kebijakan, penyusunan pogram maupun pelaksanaannya.  Pengulangan  itu sangat mungkin terjadi oleh pelaku yang sama dan semakin besar kemungkinan nya bagi pihak lain. Demikian banyak pengalaman berharga, raib bersama pelakunya.

Sebagian rangkaian pengalaman itu, sempat dicatat, ditelaah dan ditulis dan sebagian nya di publikasikan pada media cetak di Jakarta, Bandung dan Semarang. Juga di “share”  dalam situs AKPPI, P2KP, AKM dan BMS Foundation serta bloger pribadi. Termasuk juga berupa makalah yang disajikan dalam seminar, lokakarya dan diskusi.

Buku ini merupakan kumpulan dari tulsan itu yang dibagi dalam lima bahagian,  yaitu; Tantangan Pembangunan Kota, Rumah Bagi Wong Cilik, Muatan lokal, Rakyat Miskin Kota dan pada bahagian kelima sengaja ditampilkan beberapa buku pilihan dan profil Yayasan BMS serta  profil penulis.

Tiada maksud lain, hanya untuk berbagi kepada para penggiat pemberdayaan dan pihak yang peduli pada persoalan kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakpastian di sekitar kita. Walau disadari, akan ditemukan kemungkinan keterbatasan narasi, data dan kekurangan lain. Untuk itu, kucuran saran dan kritik sangat diharapkan. Penghargaan yang tinggi pada istriku Hj. Yulinar ismail yang memberikan dukungan optimal dalam pilihan karis sebagai pemberdaya masyarakat.


Buku dengan format berukuran 14,5 x 21 cm dengan jumlah halaman keseluruhan 180  halaman, masih bersifat dummy dan insya’allah bilamana ada sponsor akan diterbitkan segera. Kontak dan informasi BMS Foundation atau YPMUI Perumahan SPS D4 No. 3 Puri Indah, Jakarta Barat. 021-5803564 atau 0811104249.  

Selasa, 26 Januari 2016

Rersensi Buku Manajemen Kematian

Resensi Buku
Mempersiapkan Kematian yang Pasti Datang
(Kompasiana.com, 16 Januari 2016)

 


Selengkapnya :
http:/n/m.kompasiana.com/mjnasti/resensi-buku-
mempersiapkan-kematian-yang-pasti-datang_
5699beea22afbd3b054cc0be



 Oleh  : M.Jaya Nasti

Judul Buku : Manajemen Kematian 
Jumlah Halaman : 198 
Editor : Ahmad Rahadi, Hermansyah dan H.Muchtar Bahar
Terbitan Pertama : Mei 2015 
Penerbit :  DKM Mesjid Al-Hurriyah, Yayasan Insan Kamil,
Yayasan Silaturrahmi, YPMUI, Paguyuban Rumah Batu, BMS Foundation dan Koperasi Syariah Al-Inayah.   


H. Muchtar Bahar, seorang teman dekat,   mengirimi saya buku di atas. Ia adalah salah satu editor buku bersama dua orang lainnya.  Ia mengirimi saya buku itu, mungkin karena kami sudah sama-sama manula. Kami hampir seumur. Ia 65 tahun dan saya 66 tahun. Jadi secara halus ia memberitahu sudah seharusnya saya mempersiapkan diri agar siap menghadapi kematian yang pasti datang. 

Setelah membaca buku ini saya ingin sharing tentang kesimpulan yang saya dapatkan dari buku itu. Memang setiap orang pasti akan merasakan kematian.  Yang menjadi masalah, tidak ada orang yang mengetahui secara pasti kapan kematian akan datang. Seorang sahabat atau kerabat yang kemarin masih ditemui dan baik-baik saja, tetapi hari berikutnya dikabarkan meninggal dunia secara mendadak. Seorang teman baik yang selama ini tidak terdengar mempunyai penyakit kronis yang mematikan, tiba-tiba meninggal dunia.  Pada hal ia masih muda  dan sangat energik. Jadi kematian adalah rahasia ilahi. Kita tidak mengetahui, kapan Allah akan mengirim malaikat pencabut nyawa mendatangi kita. Oleh sebab itu, setiap orang atau keluarga perlu mempersiapkan dan mengelola kegiatan praktis yang perlu dilakukan dalam mengurus kematian. Tujuannya adalah agar menjalani kematian dengan baik sesuai dengan tuntunan agama, khususnya agama Islam. 

Untuk itulah, para editor buku, secara kroyokan menyusun buku “Manajemen Kematian” ini. Buku ini menggunakan format buku panduan (manual book), sehingga sangat memudahkan untuk memahami panduan yang diuraikan. Editor membagi buku ini dalam lima Bagian yang merupakan rangkaian proses dalam mengelola kegiatan menuju kematian yang hasanah sesuai ajaran Islam. 

Bab pertama berisi uraian tentang langkah yang harus dilakukan pada saat jatuh sakit, yang diduga bisa membawa kepada kematian. Tentu saja asumsi yang digunakan editor adalah kematian yang disebabkan suatu penyakit yang dapat membawa kematian. Tapi kematian tidak selalu datang karena jatuh sakit. Bisa juga kematian datang karena mengalami kecelakaan pesawat, karena ditusuk perampok,  peperangan dan sebagainya. 

Namun pada masa damai dan normal, tentu saja,kematian akan datang karena seseorang menderita suatu penyakit. 

Yang menarik adalah petunjuk yang mengingatkan kita selaku pembaca  untuk hanya melakukan pengobatan yang halal, yaitu pengobatan yang dibolehkan oleh ajaran Islam. Sekarang banyak pengobatan yang disebut pengobatan alternatif yang ditawarkan oleh dunia pengobatan penyakit, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya berobat kepada dukun yang membacakan mantera-mantera untuk meminta bantuan kesembukan kepada selain Allah. Hal lain yang cukup menarik yang dijelaskan buku ini  adalah mengenai wasiat tertulis yang perlu dibuat oleh orang yang jatuh sakit yang sewaktu-waktu bisa meninggal dunia.  Wasiat tertulis itu sebenarnya ditujukan untuk orang-orang di luar ahli waris. Ia diberi wasiat untuk diberi sebagian peninggalan, karena jasa-jasanya kepada kita. Jadi wasiat tertulis bukan dibuat untuk memperbesar bagian salah satu ahli waris, karena sudah ada hukum waris (faraidh) yang mengaturnya. Salah satu ketentuannya adalah wasiat itu tidak boleh melebihi sepertiga dari harta atau kekayaan yang dimiliki. 

Bagian Kedua  berisi panduan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh pihak keluarga pada saat menjelang dan setelah kematian. Jadi pihak keluarga harus melakukan sesuatu agar kematian anggota keluarganya sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Yang terpenting, menjelang ajal diusahakan agar anggota keluarga yang sakarat itu bisa membaca dua kalimah syahadah. Hal lain yang menarik pada Bagian ini adalah kisah-kisah kematian. Ada kisah Nabi Muhammad  dan isteri beliau Aisyiah menjelang beliau wafat. Ada pula kisah nyata tentang kematian yang dialami seseorang. 

Misalnya kisah tentang seorang ayah yang pada waktu sakaratul maut, tidak mampu membaca kalimah syahadat yang ditalqinkan oleh anaknya. Pada Bagian ini dijelaskan bahwa kematian itu tidak hanya akan dialami, tetapi juga disertai rasa sakit yang amat sangat saat nyawa ditarik dari tubuh seseorang. Karenanya orang yang meninggal itu sebenarnya memohon kepada orang-orang yang melucuti pakaiannya dan memandikannya agar dilakukan dengan baik supaya tidak menambah kesakitan yang dirasakannya. 

Sedangkan Bagian Ketiga berisi panduan tentang kegiatan pengurusan jenazah. Panduan ini ditujukan kepada pihak keluarga  atau pihak yang bertugas mengurus jenazah, seperti mengapani, memandikan  menshalatkan jenazah. Panduan ini dirasakan penting karena semakin sedikit orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani jenazah. Bahkan bacaan shalat jenazah banyak orang mulai lupa karena jarang dilakukan.   Selanjutnya 

Bagian Keempat berisi panduan mengenai berbagai hal yang perlu dilakukan  setelah atau paska kematian anggota keluarga, atau orang tua. Yang wajib dilakukan adalah melunasi utang-utang yang meninggal. Selain itu pihak keluarga wajib melaksanakan wasiat yang ditulis almarhum, dari harta atau kekayaan yang ditinggalkannya.   Yang perlu pula  dilakukan adalah menjaga silaturahim dengan sanak famili yang mempunyai hubungan dekat dengan yang meninggal. Disarankan agar menjadikan saudara dari ayah atau ibu sebagai pengganti yang meninggal, tentu dengan cara mendekatkan hubungan dengan mereka.   

Terakhir pada Bagian Kelima berisi informasi dan petunjuk yang sifatnya penunjang tetapi perlu dilakukan. Misalnya mengurus akta kematian. Dengan adanya akta kematian maka urusan pembagian warisan dan wasiat bisa dilakukan.  Begitu pula jika ada hak-hak yang meninggal dapat diurus, seperti klaim asuransi, pengalihan dana pada rekening bank dan sebagainya. 

Selain itu, Bagian ini berisi informasi mengenai Taman Pemakaman Umum (TPU), info ambulan dan lembaga-lembaga social  yang bergerak dalam pengurusan orang meninggal. 

Tidak ada gading yang tidak retak, maka buku ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang sebaiknya disempurnakan pada cetakan berikutnya. Kekurangan buku ini yang cukup mengganggu adalah kurang konsisten dalam penggunaan dalil.  Sebagian paduan disertai dengan dalil-dalil hadist atau ayat al-Quran. Namun banyak pula yang tidak disertai dalil, sehingga terkesan sebagai pendapat pribadi editor. Kekurangan lain adalah tidak seragamnya cara penulisan, karena disusun oleh 3 editor, masing-masing menggunakan cara dan gaya bahasanya sendiri-sendiri. Sebaiknya ada yang bertugas melakukan penyeragaman gaya bahasa, agar uraian yang disajian dirasakan kompak oleh pembaca. 

Meskipun demikian, buku ini perlu dimiliki dan dibaca oleh setiap kepala keluarga muslim. Setiap orang yang menjadi anggota keluarga pada suatu saat pasti meninggal dunia. Dengan membaca dan mengikuti panduan yang diuraikan buku ini,  hampir segala urusan yang berkaitan dengan kematian akan dapat ditangani dengan baik, sesuai ajaran agama Islam yang dianut.©  


Resensi Buku, Lawakan Orang Padang


KUCINDAN JO KURENAH URANG AWAK
Lawakan Orang Padang  

Oleh : M Jaya Nasti


 









Judul : Kurenah Jo Kucindan Urang Awak
Jumlah Halaman : 317
Penulis :  H. Muchtar Bahar  Sutan Sari Endah, H. Albazar M. Arif St. Sulaeman Ilustrator : Dicksi Iskandar
Cetakan Pertama : Januari 2015
Penerbit : BMS Foundation  

Inilah buku berbahasa Minang yang semuanya berisi hal-hal yang lucu dan lawakan khas Urang Awak. Tentu saja pembacanya haruslah warga Minang yang masih bisa berbahasa Minang. Warga Minang  atau berdarah minang yang tidak bisa berbahasa Minang bisa juga menggunakan buku ini sebagai panduan  untuk belajar Bahasa Minang, bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari orang tua dan kakek nenek mereka, sambil menikmati kisah-kisah pendek yang lucu dan segar. Kucindan adalah kata-kata yang lucu, gurauan dan kelakar, yang menjadikan orang mendengarnya tertawa atau minimal tersenyum. Sedangkan kurenah dapat diartikan sebagai perbuatan atau perilaku yang menciptakan suasana lucu dan tertawa.

Meskipun demikian, dengan pengertian itu, maka sebagian besar lawakan pada buku ini sebenarnya termasuk kategori kucindan, yaitu lawakan atau kelakar yang bertumpu pada kekuatan kata. Tentunya agak sulit menuliskan lawakan dan kelakar yang bertumpu pada kelakuan atau gerakan tubuh yang termasuk dalam kategori kurenah. Sayangnya orang Minang terlalu serius dan jarang tertawa terbahak-bahak. Mereka terlalu sibuk bekerja dan berdagang. Akibatnya secara nasional sangat sedikit pelawak atau pemain komedi yang berdarah Minang. Tukul Arwana misalnya, berasal dari Jawa, meskipun isterinya yang bernama Susy berdarah Minang. Pelawak berdarah Minang hanya diwakili oleh Kiwil,  yang lawakannya sering meniru ucapan Alm. KH Zainuddin MZ.
Berbeda halnya dengan penyanyi berdarah Minang yang stoknya cukup banyak. Musikus dan Penyanyi yang berasal atau berdarah Minang malang melintang di pentas nasional, sejak Nurseha, Elly Kasim, Oslan Husen, Lily Syarif sampai kepada Sherina dan Ariel Noah atau Peterpan. Mungkin hal itu disebabkan orang Minang suka menyanyi dan berdendang. 

Bahkan masih banyak orang Minang yang menyukai lagu-lagu saluang yang dinyanyikan di acara-acara kesenian Minang. Dulu sewaktu masih di kampung, setiap Sabtu saya menyengajakan pulang sekolah melewati Janjang 40 di Bukitinggi untuk mendengar saluang, karena di sana biasanya ada Tukang Saluang dan penyanyinya ngamen.
Buku ini mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya dalam khasanah pergaulan sehari-hari, orang Minang juga cukup kaya dengan kata dan perilaku yang berisi atau mengandung unsur kelucuan dan lawakan. Oleh sebab itu, yang dicontohkan di buku ini adalah lawakan yang bersumber dari kata dan perbuatan sehari-hari orang Minang di pasar, di tempat kerja, di rumah, pergaulan suami isteri dan sebagainya. Pengarang membagi buku ini atas lima bagian. 

Bagian Pertama diberi judul Salingka Pasa, yang berisi kurenah dan kucindan dalam kegiatan di sekitar pasar. Bagian kedua berisi kurenah yang terkait dengan sumangaik (semangat) dan kreatifitas. Bagian Ketiga berisi kucindan yang termasuk kategori hikmah. Sedangkan Bagian keempat diberi judul Sakitar Sikola, berisi kucindan dalam kegiatan di sekitar sekolah. Secara keseluruhan, dalam buku ini terkandung 236 kucindan dan kurenah.
Kelemahan buku ini adalah kucindan dan kurenah yang disajikan kurang nendang, tidak cukup  bertenaga untuk menjadikan pembaca tertawa terbahak-bahak. Sebagian besar hanya mampu menjadikan pembaca tersenyum. Mungkin hal itu disebabkan pengarang atau lebih tepatnya disebut editor, terlalu lebar dalam memasukkan lawakan dan kelakar pada kategori yang ditetapkan. Atau bisa juga disebut kurang disiplin dalam memasukan setiap kucindan atau kurenah, sehingga tidak dirasakan adanya perbedaan dalam pengelompokan kucindan dan kurenah.

Mungkin ada baiknya disusun lagi kumpulan kucindan dan kurenah yang lebih spesifik yang disesuai dengan jenis pekerjaan yang banyak digeluti orang minang. Misalnya kelompok kucindan di sekitar rumah makan, karena banyak orang Minang yan membuka restoran dan rumah makan Padang. Lalu ada kelompok kucindan orang berjualan (pedagang), orang kantoran, guru, garin (penunggu) masjid, orang berjalan-jalan (liburan), orang naik haji dan umrah, dan sebagainya.


Meskipun demikian, buku yang dibuat dalam format buku saku ini enak dibaca dan perlu dimiliki. Karenanya buku ini sebaiknya dibawa terus kemana pergi. Dengan membaca buku ini akan hilang kejengkelan dan kemarahan dalam timbul karena banyak persoalan dalam pekerjaan dan dalam berbisnis. Dengan membuka dan  membaca buku ini, kejengkelan dan kemarahan bisa hilang, dan senyum akan kembali mengembang.©     

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/mjnasti/resensi-buku-lawakan-orang-padang_56a73c824c7a61cb0cd1bb4a

Kamis, 22 Oktober 2015

Menjadi Hamba Peduli










Pengalaman lapangan dalam mengarungi kehidupan dan penghidupan ini  demikian berharga. Baik sebagai professional,  wirausaha sosial, jasa dan perdagangan, da’i dan pendidik, angkatan bersenjata,  kesehatan ataupun di bidang pertanian, kehutanan dan pemberdayaan masyarakat, ”the experience is the good teacher”. Pengulangan itu sangat mungkin terjadi oleh pelaku yang sama  dan semakin besar kemungkinan nya bagi pihak lain. Demikian banyak pengalaman berharga, raib bersama pelakunya.

Penulis adalah sahabat, sejak di bangku pendidikan tingkat sekolah  pendidikan atas, yakni Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Padang, saat kuliah di Intitut Agama Islam Negeri (IAIN)  Imam Bonjol Padang tahun 70 an. Aktif dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan di Persyarikatan Muhammadiyah.  Setelah berusia  diatas 50 tahun kembali dipertemukan di Jakarta, karena kesamaan niat, untuk mejadi hamba yang berguna bagi orang lain, di sisa umur yang dianugerahkan oleh Allah.

Penulis aktif di bidang yang sedikit berbeda, walau masih dalam ranah yang sama yakni pengembangan sumberdaya manusia. Bedanya adalah. H.Muchtar Bahar sejak merantau ke Jakarta, memasuki dunia pemberdayaan masyarakat melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sementara H. Albazar M Arif, sebagai tenaga pendidik di tingkat Ibtidaiyah,  Sekolah Lanjutan Atas dan Peguruan Tinggi.  Catatan renungan, pengalaman dari kedua hamba Allah ini yang telah dipublikasikan di media cetak, jejaring sosial, seminar, pelatihan, ceramah atau pengajian.

Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan  yang dibagi dalam empat  bagian,  yaitu; Hamba dan Khalik, Pendidikan  dan Pemberdayaan Masyarakat.  Pada bagian Keempat, adalah beberapa buku pilihan, profil penerbit yakni YPMUI dan Yayasan BMS serta profil penulis.


“Menjadi Manusia Yang Peduli”, terkait erat dengan nilai-nilai Syariat Islam  yang selalu menjadi acuan hidup dan penghidupan, sejalan dengan hadist Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)”. Dalam hadist lain Rasulullah menngingatkan kita, dari Abu Bakar RA, “Wahai Nabi Saw, siapakah manusia yang paling baik?”. Beliau Bersabda, “Orang yang panjang umur dan baik amalnya”. Ia bertanya lagi, “Siapakah manusia yang jelek?”, Nabi menjawab, “Orang yang panjang umur lagi buruk amal nya”. (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).  Dalam kedua hadist tersebut  dapat disimak makna yang dalam.

Tiada maksud lain, hanya untuk berbagi kepada para pendidik dan penggiat pemberdayaan dan pihak yang peduli pada persoalan moral, kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakpastian di sekitar kita. Kami yakin akan ditemukan kemungkinan keterbatasan narasi, data dan kekurangan lain. Untuk itu, kucuran saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan.




Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Syarak Mangato Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru













Pedoman Pengalaman
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Syarak Mangato Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru
Halaman, x/219
Gebu Minang Pusat, 2011


Menghadapi Berbagai tantangan dan realitas yang tidak kondusif itu, maka tidak ada pilihan, kecuali perlunya sebuah strategi kebudayaan dan politik. Dalam bacaan saya, Naskah Seminar Kebudayaan Minangkabau 2010 telah memberikan kerangka yang relatif komprehensif menyangkut strategi kebudayaan dan politik tersebut. Bagaimanapun kerangka itu memerlukan political will kepemimpinan birokrasi kepemerintahan; dan juga kesediaan kepemimpinan agama dan adat untuk membangun kesepakatan, baik pada tingkat konsep, kerangka, dan praksis konsolidasi kultural suku bangsa Minangkabau tersebut. Tanpa itu, keinginan untuk perubahan kearah lebih baik, bisa berarti bahwa ‘kaum’ Minangkabau itu sendiri tidak mau mengubah nasibnya.

Profesor Azyuamardi Azra memberikan catatan khusus tentang buku ini “Dalam kehidupan sosial budaya, perubahan-perubahan yang dimunculkan pembangunan (modernisasi) Orde Baru, menimbulkan urbanisasi yang berlangsung dan meningkat secara cepat di Sumatera Barat – seperti juga terjadi di banyak wilayah di Indonesia lainnya. Semakin banyak anak-anak muda Minang yang masih bujangan dan yang sudah berumahtangga—baik laki-laki maupun perempuan—yang merantau ke wilayah-wilayah urban, baik di lingkungan Sumatera Barat sendiri maupun ke wilayah-wilayah lain. Nagari, surau dan lubuk tapian pun ditinggalkan; banyak persawahan dan lahan-lahan perkebunan dibiarkan begitu saja menyemak membelukar.



Senin, 19 Oktober 2015

MUSTIKA ADAT ALAM MINANGKABAU










Saat ini, orientasi nilai budaya orang Minangkabau semakin tidak jelas. Hal ini antara lain tercermin dari tidak jelasnya posisi gender pada kekerabatan matrineal serta tidak adanya pranata budaya yang mencakup seluruh alam Minangkabau yang berfungsi secara maksimal.

Sementara itu, nama besar orang Minang, yang selama ini selalu mewarnai pentas nasional,  kini hanya tinggal kenangan. Hal tersebut disebabkan oleh karena terjadi degradasi kepemimpinan orang Minang, mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Hal tersebut sangat disayangkan, karena tidak ada upaya  generasi muda Sumatera Barat untuk membangun kebesaran seperti masa lalu, yang terjadi malah sebaliknya yakni, membangun kesadaran sejarah palsu.

Kondisi tersebut di atas di perparah lagi oleh kebudayaan lokal, yang tidak lagi mampu berperan sebagai benteng moral di tengah masyarakat, makin derasnya pengaruh negatif globalisasi, yang nyata-nyata merupakan ancaman kian memudarnya semangat tradisi lokal.

          Kekhawatiran itu juga muncul akibat perkembangan informasi dan teknologi serta dampak globalisasi yang bila tidak diluruskan maka diyakini generasi mendatang tidak lagi mengenal sendi-sendi budaya Minangkabau.

Tradisi-tradisi seni budaya yang berbudi luhur setidaknya diharapkan dapat mengangkat harkat dan martabat, sehingga perlu dipertahankan dan dikembangkan, karena seni ini sekaligus sebagai benteng moral untuk menghadapi berbagai pengaruh negatif dari globalisasi.

Panakiak pisau sirawuik
Batungkek batang lintabuang
Salodang ambiak ka niru

Sa titiak jadikan lawuik
Sa kappa jadikan gunuang
Alam ta kambang jadikan guru

Text Box: 1!Filosofis yang terkandung dalam bait-bait di atas, apabila dikaji secara seksama sangatlah dalam maknanya. Dan makna tersebut juga yang mendorong penerbitan buku yang berjudul "Mustika Adat Alam Minangkabau" ini. Karena setidaknya kehadiran buku ini diharapkan akan dapat menjawab sebagian persoalan di atas.

Semua itu juga tidak lepas dari kegundahan serta kekhawatiran akan kehilangan, jika adat tergilas serta syarak yang tidak kunjung bangkit lagi. Maka disinilah titik persoalan dimulai, karena Minangkabau akan bertukar tuan, dimana adat hanya akan dijadikan barang pajangan, terkunci dalam musium. Dari itu, jadikan masa lalu sebagai pelajaran yang bisa dipetik untuk kemajuan masa sekarang dan akan datang.

Dalam rangka itulah buku ini diterbitkan yang  bermuara kepada tujuan:

·         Menggali kembali nilai-nilai budaya Minangkabau untuk menyelamatkan peninggalan budaya dari nenek moyang kita.
·         Memberikan kontribusi pemikiran yang bersumber dari Adat Alam Minangkabau. Dari situ diharapkan buku ini menjadi salah satu acuan bagi generasi penerus kedepan.
·         Sosialisasi budaya kepada masyarakat dalam menyikapi setiap perubahan budaya ditengah hegemoni budaya Barat.
·         Mendokumentasikan gagasan-gagasan yang konstruktif yang berwawasan jauh kedepan untuk melestarikan budaya yang menjadi ciri khas dari suku bangsa yang ada di negeri ini.

Mandaki bukik ka panasan
Manurun ngarai si anok
Ta tumbuak di parantian
Di tapi tumbuah rimbo lalang

Di susun gurindam di ambahkan
Antah buruak antah mo elok
Hutang di ambo manyampaikan
Tujuan baiak  nan  kito hadang

         Cakupan isi buku ini terdiri dari delapan bahagian yakni; Bagian Pertamo “Nan Tasirek”, Bagian Kaduo “Urang Sumando”, Bagian Ketigo “Nasihat dan Asal Usul”, Bagian Kaampek “Tujuah Kalarasan”, Bagian Kalimo “Tantang Pangulu”, Bagian Kaanam “Mulo Pasambahan dan Batimbang Tando”, Bagian Katujuah “Pasambahan Baralek”,  dan  bahagian terakhir yakni Bagian Salapan  adalah “Sejarah Minangkabau”.

Pada bahagian awal dukungan dan sambutan dari Pengurus  Gebu Minang Pusat dan Badan Pembina YPMUI.  Secara khusus dalam lampiran disertakan; Daftar Pustaka, Profil Yayasan BMS dan YPMUI  dan profil Penulis, publikasi dan Editor.


            Tentu saja dalam buku ini ditemukan sejumlah kekurangan dan kejanggalan. Untuk itu kami harapkan saran dan masukkan dari seluruh masyarakat Minangkabau dan masyarakat  pembaca. 

Ngakak Koruptor dan Politikus




Banyak ketawa akan semakin terhindar dari penyakit jantung. Namun  “Ngakak Koruptor & Politikus, Semangat  Pemberdaya”, bisa-bisa merusak jantung anda, kalau ketawa terpingkal-pingkal, tanpa dibarengi tangisan sebagai kontrol.

Buku ini merupakan kumpulan pengalaman langsung selama lebih 40 tahun aktif dalam pemberdayaan masyarakat, baik saat masih di LP3ES, LPPSE maupun di Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS). Juga petikan catatan  saat aktif di Formasi Indonesia, Asosiasi Keuangan Mikro, AKPPI, JKPM  dan jaringan LSM Perkotaan, insya Allah terbit tahun 2014 ini.

Isi buku terbagi dalam tiga bahagian. Bahagian pertama tentang Ngakak Koruptor dan Pemberdaya dengan 59 topik. “Seorang teman bercanda dengan temannya. Beranikah meludahi koruptur yang lewat di depan anda?. Mas; “Ludah saja jauh lebih berharga, lebih baik saya telan dari pada meludahi koruptor itu”. Bahagian kedua, Semangat pemberdaya, dengan 67 topik. Dalam dunia pemberdayaan selalu menjadi penekanan  strategi, yakni:

“If you are planning for a year, sow rice,
If you are planning for a decade, plant trees,
If you are planning for a life time, educate a people,
If you are planning for milyader ……  jadilah koruptor”

Sementara bahagian ketiga, Ngakak dan Miris Wong Cilik, dengan 80 topik. Misalnya, dalam acara reunian dengan teman-teman lulusan Sekolah Dasar angkatan 70 an, selalu saja akan bercerita kisah-kisah nostalgia dimasa sekolah tingkat dasar itu. Fokus obrolan akan menggelinding pada pendidikan dan karir serta keluarga. Pastilah ada yang sudah meraih jenjang pendidikan tinggi Strata 3, Strata 2 dan Strata 1, dan ada pula yang hanya sampai ke tingkat Sekolah Lanjutan Pertama dan Atas.

Pandeka nggak mau ketinggalan. Dengan bangga menceritakan bahwa dia meraih S.Sos dan M.Si. Teman-teman heran, karena semua tahu bahwa dia hanya lulusan SMA. Emangnya kamu kuliahnya kapan dan dimana?, Pandeka dengan semangat ngoceh ”Saya lulusan luar negeri, S.Sos  saya adalah Sering Salahin Orang Sekitar dan Maha Tahu Semua Ilmu, ya M.Si”.


Selain itu, inspirasi dan bahan buku ini juga berasal dari teman-teman dan dari berbagai media, situs dan dunia jejaring sosal.  Substansi dan makna dari buku ini diharapkan dapat memacu semangat para pemberdaya dan orang yang peduli atas sesama serta memperjuangkan kejujuran. Penerbitan buku ini juga merupakan upaya penggalangan dana bagi kegiatan yang dijalankan Yayasan BMS dan mitra.

BAHASA MINANG POPULER (Minang Taseba)


Penulisan buku ini dilatar belakangi oleh tiga alasan. Pertama, para generasi muda terutama yang dirantau yang enggan ikut aktif dalam peguyuban dan pertemuan yang menggunakan bahasa Minang. Ketika ditanyakan, alasannya sederhana, “kami ingin ikut, tapi kami tidak mengerti yang dibicarakan dalam pertemuan itu”.

Realitas dalam kehidupan sehari hari, pada umumnya keluarga perantau jarang menggunakan Bahasa Minang dalam komunikasi sehari hari. Prof. Drs. H Satni Eka Putra, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Barat menekankan bahwa “Bahaso Manunjuakkan Bangso” dengan bahasa yang jelas identitasnya dengan tutur bahasa yang sopan dan santun akan menggambarkan identitas dan kepribadian orang itu. Dengan kata lain kalau kita telah “melupakan” bahasa kita sendiri berarti kita kehilangan identitas kita, jati diri kita.

            Alasan kedua adalah dorongan untuk memberikan fasilitas bagi masyarakat Indonesia dan juga warga asing untuk mempelajari bahasa Minang. Dengan adanya buku “Bahasa Minang Populer” ini, proses mempelajari bahasa Minang lebih mudah. Karena tempat khusus untuk mempelajari Bahasa Minang, hanya di Perguruan Tinggi. Malahan Dr. Fasli Jalal. Ph.D ketika itu menjabat sebagai Direktur Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda”. Para penulis tidak banyak yang berminat untuk berkarya dalam bahasa Minangkabau. Disamping minat baca bahasa Minangkabau khususnya di Ranah Minang amat rendah. Hal ini dibuktikan dengan semakin sulitnya kita menemukan buku-buku berbahasa daerah Minangkabau di Ranah Minang, apalagi diluar daerah Ranah Minang. Hal ini sejalan dengan hasil “Mupakat Bandung pada point 3”

            Alasan berikutnya adalah membantu siswa dalam memahami Bahasa Minang dalam jenjang pendidikan formal, dasar dan menengah. Kalau anak-anak dirantau tinggal di Bekasi, maka ada muatan lokal mata pelajaran bahasa Sunda demikian juga anak-anak yang belajar di Jawa Tengah akan mempelajari Bahasa Jawa, begitu pula didaerah lain di tanah air Indonesia tercinta.

            Buku ini terdiri dari Sembilan Bab yaitu Bab I, Pendahuluan, Bab II, Bahasa Minangkabau serta hubungan dengan Bahasa Indonesia, dan Bab III adalah tentang Perbandingan kosa kata dalam bahasa Minangkabau dengan kosa kata dalam bahasa Indonesia. Isi Bab IV, Pronomina dan Kata Sapaan, Bab V, Pemahaman kelas Bahasa Indonesia, Bab VI, Imbuhan dan Bab VII, Pembentukan Kalimat. Pada bagian akhir dilampirkan Daftar Pustaka, Daftar Istilah, Lumbuang Kato, Kunci Jawaban dan Biodata Penulis.


            Buku ini menarik dan penting bagi remaja anak rantau dan di kampung halaman serta etnik lain dan warga asing yang ingin mendalami bahasa Minangkabau.

HIDUP BERAKAL, MATI BERIMAN





         

          Buku dengan 222 halaman ditambah pengantar dan sambutan dari sejumlah toko Minangkabau seperti Dr Muchtar Naim, Drs Azmi Dt Bagindo, DR. H Suhairy Ilyas, MA,  ditulis oleh Ir H Taufi Bey St Permato, Insyaalah akan diterbitkan tahun 2015 nanti.
  
Lingkup  isi buku ini dibagi dalam delapan bahagian, yakni; Sejarah ringkas Minangkabau. Surau Dalam Adat Salingka Nagari, Surau dan “Sumpah Sakti”,  Surau Cetak Generasi Baru, Hidup Berakal Mati Beriman, Mengapik Daun Kunyik, Surau dan Minangkabau Kini dan Mari Bersurau.

Hidup Berakal dan Mati Beriman Ini, adalah  buku kedua yang disusun  oleh penulis, setelah buku. “Rao-Rao, Tanah Katitiran di Ujuang tanduak” tahun 2002. Penulis juga editor buku “Mambangkik Batang Tarandam Minangkabau di Tapi Jurang”, 2013.  

“Belanda berpagar besi, Minangkabau berpagar adat, adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, menjadi pijakan yang kuat. Surau salah satu alternatif  untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam, “Sumpah Sakti” itu.