Selasa, 25 Desember 2018

BERSAMA MASYARAKAT, MENATA KOTA

Pengalaman lapangan dalam pemberdayaan masyarakat demikian berharga. Karena sering kekeliruan yang dibuat sebelumnya  berulang kembali. Baik pada tatanan kebijakan, penyusunan pogram maupun pelaksanaannya.  Pengulangan  itu sangat mungkin terjadi oleh pelaku yang sama dan semakin besar kemungkinan nya bagi pihak lain. Demikian banyak pengalaman berharga, raib bersama pelakunya.

Sebagian rangkaian pengalaman itu, sempat dicatat, ditelaah dan ditulis dan sebagian nya di publikasikan pada media cetak di Jakarta, Bandung dan Semarang. Juga di “share”  dalam situs AKPPI, P2KP, AKM dan BMS Foundation serta bloger pribadi. Termasuk juga berupa makalah yang disajikan dalam seminar, lokakarya dan diskusi.

Buku ini merupakan kumpulan dari tulsan itu yang dibagi dalam lima bahagian,  yaitu; Tantangan Pembangunan Kota, Rumah Bagi Wong Cilik, Muatan lokal, Rakyat Miskin Kota dan pada bahagian kelima sengaja ditampilkan beberapa buku pilihan dan profil Yayasan BMS serta  profil penulis.

Tiada maksud lain, hanya untuk berbagi kepada para penggiat pemberdayaan dan pihak yang peduli pada persoalan kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakpastian di sekitar kita. Walau disadari, akan ditemukan kemungkinan keterbatasan narasi, data dan kekurangan lain. Untuk itu, kucuran saran dan kritik sangat diharapkan. Penghargaan yang tinggi pada istriku Hj. Yulinar ismail yang memberikan dukungan optimal dalam pilihan karis sebagai pemberdaya masyarakat.


Buku dengan format berukuran 14,5 x 21 cm dengan jumlah halaman keseluruhan 180  halaman, masih bersifat dummy dan insya’allah bilamana ada sponsor akan diterbitkan segera. Kontak dan informasi BMS Foundation atau YPMUI Perumahan SPS D4 No. 3 Puri Indah, Jakarta Barat. 021-5803564 atau 0811104249.  

CHAIRIL ANWAR DT KAYO, DIPANGGIL LEBIH AWAL




INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN

Chairil Anwar Tanjung Dt.Kayo.  telah dipanggil oleh Illahi Rabby  dengan umur 84 tahun. Ia adalah pucuk pimpinan suku Tanjung di nagari Sipisang nan Tujuah, Palupuh, Agam Sumatera Barat. Dipanggil olah sang pencipta 12 Desember 2018 di RSUD Bekasi. Kemudian dimakamkan di TPU Mangun Jaya, Tambun sesudah shalat zhuhur dihari yang sama. 

Almarhum aktif  dalam program  pemberdayaan masyarakat dan pejuang hak anak., transmigrasi, UKM dan koperasi melalui BMS Foundation, LPPPSE dan Formasi Indonesia.

Selain aktif di lembaga swadaya masyarakat, almarhum aktif di mesjid Al Hijrah, Wisma Asri, baik sebagai pengurus maupun sebagai penasihat. Unntuk Ikatan Keluarga Minang (IKM) Bekasi, beliau juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Ringan tangan dalam membagi pengalaman dan nasihat. 


Pencegahan HI/AID di Kabupaten Bekasi untuk anak jalanan salah satu program tahunan yang ditekuni almarhum. Begitu juga dengan program pengurangan anak jalanan di Bekasi, Cikarang dan Karawang, dengan dukungan ILO melalui BMS Foundation


















Beliau memberikan perhatian yang besar pada keluarga perantau dengan meintir Koperasi Syariah Al Inayah, lembaga salaing tolong menolong sesama.


Semoga pengalaman yang dibagikan, ilmu yang dicurahkan kepada keluarga, lingkungan, masyarakat lapis bawah dan anak jalanan, menjadi amal dengan imbalan pahala yang abadi bagi almarhum.







MAK IJUN, H.ZULKARNAIN DT. RAJO RUMUM



Pagi ini, 26 Desember 2018,  usai shalat shubuh di Mesjid Al Hurriyah, Puri Indah, Jakarta,  membuka HP untuk membaca doa. Terlihat pesan masuk via WA dan panggilan dari ponakan Ril, Pakan Baru.
Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Paman, Om atau mamak H.Zulkarnain Dt Rajo Ruhum telah dipanggil Allah jam 10.00 tadi malam.
Setiap pulang kampung ke Lawang, selalu mampir di rumah beliau di Tanah Sirah. Suasana haru dan kangen bergumul. Beliau menitik kan air mata dan apalagi saya sebagai ponakan. Dua tahun lalu terakhir ketemu beliau.
Beliau seorang guru memiliki kepiawaian memainkan biola, Makanya kami sering menyebut beliau Angku Nana, biola dan canda yang sulit dilupakan. Saya memanggil beliau dengan Mak "Ijun". Tek Uka etek yang luar biasa , mendampingi beliau, hingga umur 84 tahun. Alhamdulillah anak anak nya semua lanjut ke perguruan tinggi.
Kini bel;iau sudah dipanggil illahi rabby, semoga berbagai ilmu yang telah dibagi pada murid murid, kepada keluarga dan kepada kami, mernjadi amal dan diberikan pahala yang tiada henti. Begitu juga amal jariah yang telah dibagi selama hidup beliau.
Semoga beliau dipanggil dalam husnul khatimah, dan ditempatkan di sisi Nya. Aamiin

Selasa, 26 Januari 2016

Rersensi Buku Manajemen Kematian

Resensi Buku
Mempersiapkan Kematian yang Pasti Datang
(Kompasiana.com, 16 Januari 2016)

 


Selengkapnya :
http:/n/m.kompasiana.com/mjnasti/resensi-buku-
mempersiapkan-kematian-yang-pasti-datang_
5699beea22afbd3b054cc0be



 Oleh  : M.Jaya Nasti

Judul Buku : Manajemen Kematian 
Jumlah Halaman : 198 
Editor : Ahmad Rahadi, Hermansyah dan H.Muchtar Bahar
Terbitan Pertama : Mei 2015 
Penerbit :  DKM Mesjid Al-Hurriyah, Yayasan Insan Kamil,
Yayasan Silaturrahmi, YPMUI, Paguyuban Rumah Batu, BMS Foundation dan Koperasi Syariah Al-Inayah.   


H. Muchtar Bahar, seorang teman dekat,   mengirimi saya buku di atas. Ia adalah salah satu editor buku bersama dua orang lainnya.  Ia mengirimi saya buku itu, mungkin karena kami sudah sama-sama manula. Kami hampir seumur. Ia 65 tahun dan saya 66 tahun. Jadi secara halus ia memberitahu sudah seharusnya saya mempersiapkan diri agar siap menghadapi kematian yang pasti datang. 

Setelah membaca buku ini saya ingin sharing tentang kesimpulan yang saya dapatkan dari buku itu. Memang setiap orang pasti akan merasakan kematian.  Yang menjadi masalah, tidak ada orang yang mengetahui secara pasti kapan kematian akan datang. Seorang sahabat atau kerabat yang kemarin masih ditemui dan baik-baik saja, tetapi hari berikutnya dikabarkan meninggal dunia secara mendadak. Seorang teman baik yang selama ini tidak terdengar mempunyai penyakit kronis yang mematikan, tiba-tiba meninggal dunia.  Pada hal ia masih muda  dan sangat energik. Jadi kematian adalah rahasia ilahi. Kita tidak mengetahui, kapan Allah akan mengirim malaikat pencabut nyawa mendatangi kita. Oleh sebab itu, setiap orang atau keluarga perlu mempersiapkan dan mengelola kegiatan praktis yang perlu dilakukan dalam mengurus kematian. Tujuannya adalah agar menjalani kematian dengan baik sesuai dengan tuntunan agama, khususnya agama Islam. 

Untuk itulah, para editor buku, secara kroyokan menyusun buku “Manajemen Kematian” ini. Buku ini menggunakan format buku panduan (manual book), sehingga sangat memudahkan untuk memahami panduan yang diuraikan. Editor membagi buku ini dalam lima Bagian yang merupakan rangkaian proses dalam mengelola kegiatan menuju kematian yang hasanah sesuai ajaran Islam. 

Bab pertama berisi uraian tentang langkah yang harus dilakukan pada saat jatuh sakit, yang diduga bisa membawa kepada kematian. Tentu saja asumsi yang digunakan editor adalah kematian yang disebabkan suatu penyakit yang dapat membawa kematian. Tapi kematian tidak selalu datang karena jatuh sakit. Bisa juga kematian datang karena mengalami kecelakaan pesawat, karena ditusuk perampok,  peperangan dan sebagainya. 

Namun pada masa damai dan normal, tentu saja,kematian akan datang karena seseorang menderita suatu penyakit. 

Yang menarik adalah petunjuk yang mengingatkan kita selaku pembaca  untuk hanya melakukan pengobatan yang halal, yaitu pengobatan yang dibolehkan oleh ajaran Islam. Sekarang banyak pengobatan yang disebut pengobatan alternatif yang ditawarkan oleh dunia pengobatan penyakit, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya berobat kepada dukun yang membacakan mantera-mantera untuk meminta bantuan kesembukan kepada selain Allah. Hal lain yang cukup menarik yang dijelaskan buku ini  adalah mengenai wasiat tertulis yang perlu dibuat oleh orang yang jatuh sakit yang sewaktu-waktu bisa meninggal dunia.  Wasiat tertulis itu sebenarnya ditujukan untuk orang-orang di luar ahli waris. Ia diberi wasiat untuk diberi sebagian peninggalan, karena jasa-jasanya kepada kita. Jadi wasiat tertulis bukan dibuat untuk memperbesar bagian salah satu ahli waris, karena sudah ada hukum waris (faraidh) yang mengaturnya. Salah satu ketentuannya adalah wasiat itu tidak boleh melebihi sepertiga dari harta atau kekayaan yang dimiliki. 

Bagian Kedua  berisi panduan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh pihak keluarga pada saat menjelang dan setelah kematian. Jadi pihak keluarga harus melakukan sesuatu agar kematian anggota keluarganya sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Yang terpenting, menjelang ajal diusahakan agar anggota keluarga yang sakarat itu bisa membaca dua kalimah syahadah. Hal lain yang menarik pada Bagian ini adalah kisah-kisah kematian. Ada kisah Nabi Muhammad  dan isteri beliau Aisyiah menjelang beliau wafat. Ada pula kisah nyata tentang kematian yang dialami seseorang. 

Misalnya kisah tentang seorang ayah yang pada waktu sakaratul maut, tidak mampu membaca kalimah syahadat yang ditalqinkan oleh anaknya. Pada Bagian ini dijelaskan bahwa kematian itu tidak hanya akan dialami, tetapi juga disertai rasa sakit yang amat sangat saat nyawa ditarik dari tubuh seseorang. Karenanya orang yang meninggal itu sebenarnya memohon kepada orang-orang yang melucuti pakaiannya dan memandikannya agar dilakukan dengan baik supaya tidak menambah kesakitan yang dirasakannya. 

Sedangkan Bagian Ketiga berisi panduan tentang kegiatan pengurusan jenazah. Panduan ini ditujukan kepada pihak keluarga  atau pihak yang bertugas mengurus jenazah, seperti mengapani, memandikan  menshalatkan jenazah. Panduan ini dirasakan penting karena semakin sedikit orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani jenazah. Bahkan bacaan shalat jenazah banyak orang mulai lupa karena jarang dilakukan.   Selanjutnya 

Bagian Keempat berisi panduan mengenai berbagai hal yang perlu dilakukan  setelah atau paska kematian anggota keluarga, atau orang tua. Yang wajib dilakukan adalah melunasi utang-utang yang meninggal. Selain itu pihak keluarga wajib melaksanakan wasiat yang ditulis almarhum, dari harta atau kekayaan yang ditinggalkannya.   Yang perlu pula  dilakukan adalah menjaga silaturahim dengan sanak famili yang mempunyai hubungan dekat dengan yang meninggal. Disarankan agar menjadikan saudara dari ayah atau ibu sebagai pengganti yang meninggal, tentu dengan cara mendekatkan hubungan dengan mereka.   

Terakhir pada Bagian Kelima berisi informasi dan petunjuk yang sifatnya penunjang tetapi perlu dilakukan. Misalnya mengurus akta kematian. Dengan adanya akta kematian maka urusan pembagian warisan dan wasiat bisa dilakukan.  Begitu pula jika ada hak-hak yang meninggal dapat diurus, seperti klaim asuransi, pengalihan dana pada rekening bank dan sebagainya. 

Selain itu, Bagian ini berisi informasi mengenai Taman Pemakaman Umum (TPU), info ambulan dan lembaga-lembaga social  yang bergerak dalam pengurusan orang meninggal. 

Tidak ada gading yang tidak retak, maka buku ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang sebaiknya disempurnakan pada cetakan berikutnya. Kekurangan buku ini yang cukup mengganggu adalah kurang konsisten dalam penggunaan dalil.  Sebagian paduan disertai dengan dalil-dalil hadist atau ayat al-Quran. Namun banyak pula yang tidak disertai dalil, sehingga terkesan sebagai pendapat pribadi editor. Kekurangan lain adalah tidak seragamnya cara penulisan, karena disusun oleh 3 editor, masing-masing menggunakan cara dan gaya bahasanya sendiri-sendiri. Sebaiknya ada yang bertugas melakukan penyeragaman gaya bahasa, agar uraian yang disajian dirasakan kompak oleh pembaca. 

Meskipun demikian, buku ini perlu dimiliki dan dibaca oleh setiap kepala keluarga muslim. Setiap orang yang menjadi anggota keluarga pada suatu saat pasti meninggal dunia. Dengan membaca dan mengikuti panduan yang diuraikan buku ini,  hampir segala urusan yang berkaitan dengan kematian akan dapat ditangani dengan baik, sesuai ajaran agama Islam yang dianut.©  


Resensi Buku, Lawakan Orang Padang


KUCINDAN JO KURENAH URANG AWAK
Lawakan Orang Padang  

Oleh : M Jaya Nasti


 









Judul : Kurenah Jo Kucindan Urang Awak
Jumlah Halaman : 317
Penulis :  H. Muchtar Bahar  Sutan Sari Endah, H. Albazar M. Arif St. Sulaeman Ilustrator : Dicksi Iskandar
Cetakan Pertama : Januari 2015
Penerbit : BMS Foundation  

Inilah buku berbahasa Minang yang semuanya berisi hal-hal yang lucu dan lawakan khas Urang Awak. Tentu saja pembacanya haruslah warga Minang yang masih bisa berbahasa Minang. Warga Minang  atau berdarah minang yang tidak bisa berbahasa Minang bisa juga menggunakan buku ini sebagai panduan  untuk belajar Bahasa Minang, bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari orang tua dan kakek nenek mereka, sambil menikmati kisah-kisah pendek yang lucu dan segar. Kucindan adalah kata-kata yang lucu, gurauan dan kelakar, yang menjadikan orang mendengarnya tertawa atau minimal tersenyum. Sedangkan kurenah dapat diartikan sebagai perbuatan atau perilaku yang menciptakan suasana lucu dan tertawa.

Meskipun demikian, dengan pengertian itu, maka sebagian besar lawakan pada buku ini sebenarnya termasuk kategori kucindan, yaitu lawakan atau kelakar yang bertumpu pada kekuatan kata. Tentunya agak sulit menuliskan lawakan dan kelakar yang bertumpu pada kelakuan atau gerakan tubuh yang termasuk dalam kategori kurenah. Sayangnya orang Minang terlalu serius dan jarang tertawa terbahak-bahak. Mereka terlalu sibuk bekerja dan berdagang. Akibatnya secara nasional sangat sedikit pelawak atau pemain komedi yang berdarah Minang. Tukul Arwana misalnya, berasal dari Jawa, meskipun isterinya yang bernama Susy berdarah Minang. Pelawak berdarah Minang hanya diwakili oleh Kiwil,  yang lawakannya sering meniru ucapan Alm. KH Zainuddin MZ.
Berbeda halnya dengan penyanyi berdarah Minang yang stoknya cukup banyak. Musikus dan Penyanyi yang berasal atau berdarah Minang malang melintang di pentas nasional, sejak Nurseha, Elly Kasim, Oslan Husen, Lily Syarif sampai kepada Sherina dan Ariel Noah atau Peterpan. Mungkin hal itu disebabkan orang Minang suka menyanyi dan berdendang. 

Bahkan masih banyak orang Minang yang menyukai lagu-lagu saluang yang dinyanyikan di acara-acara kesenian Minang. Dulu sewaktu masih di kampung, setiap Sabtu saya menyengajakan pulang sekolah melewati Janjang 40 di Bukitinggi untuk mendengar saluang, karena di sana biasanya ada Tukang Saluang dan penyanyinya ngamen.
Buku ini mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya dalam khasanah pergaulan sehari-hari, orang Minang juga cukup kaya dengan kata dan perilaku yang berisi atau mengandung unsur kelucuan dan lawakan. Oleh sebab itu, yang dicontohkan di buku ini adalah lawakan yang bersumber dari kata dan perbuatan sehari-hari orang Minang di pasar, di tempat kerja, di rumah, pergaulan suami isteri dan sebagainya. Pengarang membagi buku ini atas lima bagian. 

Bagian Pertama diberi judul Salingka Pasa, yang berisi kurenah dan kucindan dalam kegiatan di sekitar pasar. Bagian kedua berisi kurenah yang terkait dengan sumangaik (semangat) dan kreatifitas. Bagian Ketiga berisi kucindan yang termasuk kategori hikmah. Sedangkan Bagian keempat diberi judul Sakitar Sikola, berisi kucindan dalam kegiatan di sekitar sekolah. Secara keseluruhan, dalam buku ini terkandung 236 kucindan dan kurenah.
Kelemahan buku ini adalah kucindan dan kurenah yang disajikan kurang nendang, tidak cukup  bertenaga untuk menjadikan pembaca tertawa terbahak-bahak. Sebagian besar hanya mampu menjadikan pembaca tersenyum. Mungkin hal itu disebabkan pengarang atau lebih tepatnya disebut editor, terlalu lebar dalam memasukkan lawakan dan kelakar pada kategori yang ditetapkan. Atau bisa juga disebut kurang disiplin dalam memasukan setiap kucindan atau kurenah, sehingga tidak dirasakan adanya perbedaan dalam pengelompokan kucindan dan kurenah.

Mungkin ada baiknya disusun lagi kumpulan kucindan dan kurenah yang lebih spesifik yang disesuai dengan jenis pekerjaan yang banyak digeluti orang minang. Misalnya kelompok kucindan di sekitar rumah makan, karena banyak orang Minang yan membuka restoran dan rumah makan Padang. Lalu ada kelompok kucindan orang berjualan (pedagang), orang kantoran, guru, garin (penunggu) masjid, orang berjalan-jalan (liburan), orang naik haji dan umrah, dan sebagainya.


Meskipun demikian, buku yang dibuat dalam format buku saku ini enak dibaca dan perlu dimiliki. Karenanya buku ini sebaiknya dibawa terus kemana pergi. Dengan membaca buku ini akan hilang kejengkelan dan kemarahan dalam timbul karena banyak persoalan dalam pekerjaan dan dalam berbisnis. Dengan membuka dan  membaca buku ini, kejengkelan dan kemarahan bisa hilang, dan senyum akan kembali mengembang.©     

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/mjnasti/resensi-buku-lawakan-orang-padang_56a73c824c7a61cb0cd1bb4a