Kamis, 08 November 2007

Pembangunan Rusun Sederhana Pengalaman dari Jiran


Hari Habitat baru saja diperingati di Yogyakarta, 4 Oktober 2004 dengan berbagai kegiatan seperti bazar, seminar dan pameran dengan tema “City : Engine for Rural Development” Even ini relevan dengan kunjungan singkat ke lokasi Proyek Philippines Business for Social Progress (PBSP) , 9 Oktober 2004 bersama sama dengan peserta lokakarya dari Bangladesh. Pengalaman ini mungkin berguna dalam melakukan rehabilitasi permukiman akibat gempa dan badai tsunami di Aceh.

Lokasi program ini termasuk salah satu dari 24 lokasi pembangunan rusun sederhana, yang berada di 9 kota di Kota Metropolitan Manila dengan kemasan Startegic Private Sector Partnerships for Urban Reduction Program (STEP-UP).

Marieta Kaciero adalah salah seorang penghuni Rusun di Taguig dengan luas lahan 72 ha. Rusun ini dibangun sejak dua tahun yang lalu untuk 60 keluarga berlantai 3 dalam tiga blok. Marieta adalah salah satu dari 6.000 pemanfaat program STEP-UP tinggal di lantai 3 dengan ukuran 38 m2. Ruang utama secara terbuka tanpa sekat, dapur dan kamar mandi di pisah. Marieta ibu rumah tangga dengan suami buruh tekstil dengan gaji setiap bulan sekitar 12.000 peso, atau sekitar . Keluarga ini mulai tinggal di lokasi ini bulan April 2004 dan setiap bulan ia akan membayar angsuran 500 peso. Biaya listrik dan air, setiap hari sekitar 20 pesos. Demikian juga halnya dengan Sauki Umar yang tinggal di lantai dasar , ia tinggal di Rusun ini sejak bulan Maret 2004. Sauki Umar mempunyai anak 1 orang dengan suami pedagang di pasar tradisionil sekitar 8 km dari rusun ini. Ia merasa bahwa angsuran pokok dan biaya keperluan harian, masih terjangkau.

Program ini merupakan kerja bareng antara LSM, PBSP, Pemerintah Daerah dan Lembaga Dana. Pemerintah Daerah menyediakan lahan, dengan sewa ringan dengan perjanjian lahan ini tidak akan digunakan selama 50 tahun. PBSP menjadi pelaksana program dan juga fasilitator penyediaan dana untuk kegiatan penampungan dan fasilitas sosial. Uni Eropa mendukung dana fasilitas unum dan sejumlah dana bergulir bagi pembanguan rusun. Sementara ADB dan Japan Fund for Poverty Reduction memberikan dukungan untuk pembangunan rumah.

Disain bangunan dan konstruksi dibantu oleh Habitat for Humanity International (HHI) dan pengerjaannya dilakukan bersama dengan calon pemilik rumah. Dalam proses pembanguna rusun ini yang mencapai 3 bulan, setiap calon pemilik rumah harus ikut bergotong royong, minimal 400 jam kerja selama proses berlangsung Calon pemilik dapat ikut dalam pembuatan bataco, pengerjaan konstruksi, finishing sesuai dengan ketersediaan waktu mereka dan keterampilan yang dimiliki. Keikutsertaan mereka dapat berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu dan atau beberapa jam sehari pada hari yang lain. Pada hari Sabtu dan Minggu sejumlah volunteers dari HHI datang bergotong royong dalam membantu pembangunan ini.

Tipe konstruksi utama balok beton dan dengan lantai beton. Dinding menggunakan bataco dengan pola intersection. Tiap lantai tidak menggunakan plafon. Tidak ada komponen utama yang menggunakan kayu, termasuk kusen. Hanya pintu yang menggunakan kayu. Atap dengan konstruksi kasau besi dan bahan fiber.

Di lokasi perumahan ini sejak tahun 2002 telah berdiri paguyuban warga. Paguyuban warga periode ke 2 ini dipimpin oleh Presiden Wanita. Peran paguyuban dalah dalam hal perumusan aturan dan kesepakatan bertetangga yang tinggal di Rusun ini, pertemuan reguler antara warga, keamanan , kebersihan, pengaturan fasilitas umum. Termasuk pengelolaan listrik, air bersih dan sampah.


DGR Penggerak Keswadayaan Masyarakat

Belajar dari Sleman

Kunjungan lapangan bersama Drs. H.Ibnu Subiyanto, Akt, Bupati Sleman pada tanggal 6 dan 7 Februari 2005 yang lalu memberikan sejumlah manfaat memperkaya pengalaman nyata. Petikan pengalaman itu ditulis dalam beberapa topic, yang pertama adalah “Dari Sleman Untuk Aceh” yang telah dimuat di situs http://www.bmsfoundation.or.id/, dan “ Proses Edukasi Melalui Candak Kulak, Petikan pengalaman dari Sleman” 24 Februari 2005 dimuat di situs http://www.akm.or.id/. Tulisan ketiga ini “ DGR Penggerak Keswadayaan Masyarakat, Belajar dari Sleman” di muat dalam situs http://www.akppi.org/ ini dan mungkin juga secara utuh dimuat di http://www.bmsfoundation.or.id/

Gerakan Swadaya
Masyarakat di 4 Desa yang terbagi dalam 91 dukuh di kecamatan Berbah, Kabupaten sleman telah mampu menggali swadaya masyarakat untuk kegiatan peningkatan kualitas lingkungan. Dana Gotong Royong (DGR) yang diberikan oleh Pemda Kabupaten Sleman sebesar Rp 92,8 juta telah berhasil menggerakkan swadaya masyarakat yang mencapai Rp. 591,1 juta. Kegiatan peningkatan kualitas lingkungan itu berupa pengaspalan jalan lingkungan, pemasangan conblock jalan desa, pemasangan talut saluran, pengerasan jalan dan juga rehabillitasi sarana ibadah, Mesjid.

Misalnya di desa Sangrahan sedang berlangsung pemasangan conblock di beberapa lokasi . Di Dukuh Sangrahan Krikilan, berlangsung telah selesai pemasangan conblock di jalan lingkungan sepanjang 1110 m2 dengan dukungan dana P2PMD Rp. 25,2 juta dan berhasil menggalang partisipasi masyarakat sebesar Rp. 18 juta. Demikian juga di dukuh Berbah kelurahan Tegal Tirto rampung peningkatan kualitas jalan lingkungan dengan pemasangan conblock 2.200 m2. Dana stimulasi diperoleh dari PT Angkasa Pura Rp 6 juta dan sebanyak Rp. 45,25 juta dari swadaya masyarakat.

Berhasilnya penggalangan dana masyarakat sebesar itu dengan beberapa cara dan tidak hanya dalam bentuk dana tunai, diantaranya adalah “Gotong Royong semua warga di bagi dalam kelompok se-usai mereka bekerja , jam 17.29.30 setiap hari, secara bergiliran. Setiap kelompok rata-rata 75 orang, pada hari libur mencapai 150 orang. Konsumsi dukungan dari Ibu PKK”, Tutur H M Jufri, Lurah Desa Tegal Tirto. Pengumpulan dana dari masyarakat dalam beberapa lain, seperti akumulasi dari dana ronda, dana jimpitan Rp 500 per keluarga, dana iuran bulanan, dana iuran kendaraan roda empat dan gerakan penggalangan dana secara khusus, tambah Lurah Tegal Tirto.
Demikian juga di Dusun Pondok Suruh, Desa Bromartani, Kecamatan Ngemplak, sudah mulai menggalang dana swadaya untuk pemasangan conblock jalan lingkungan seluas 1.000 m2 dan telah berhasil mengumpulkan dana swadaya Rp. 10.900.000.
Dana Gotong Royong

Realisasi kesawadayaan masyarakat di berbagai dusun itu, didorong oleh penyediaan Dana Bantuan Gotong Royong yang disiapkan Pemda Sleman. Penyediaan DGR adalah sebuah inisiatif dalam APBD Kabupaten sejak tiga tahun yang lalu. DGR ini disiapkan untuk tiap dusun sebesar Rp 1 juta pada tahun 2003, kemudian pada tahun 2004, Rp 2.250.000 per dusun dan pada tahun 2004 sebesar Rp 2,5 juta per dusun. Tahun 2005 ini masih dalam pembahasan DPRD Kabupaten Sleman, paling tidak sama dengan tahun 2004.
Jumlah dusun yang memperoleh dana ini 1.212 dusun, padahal tahun 2003 masih sebanyak 1.100 dusun yang berada di 86 desa/kelurahan. Kabupaten Sleman dengan penduduk 869.00 jiwa, sekitar 24 % masih termasuk miskin


Dalam kunjungan lapangan yang berlangsung Ibnu Subiyanto membeberkan stimulans lanjutan dalam bentuk aspal dan semen. Pemberian aspal berkisar antara 25 hingga 75 drum dan semen berkisar dari 50 hingga 150 sak, yang disesuaikan dengan volume kegiatan yang sedang dijalankan oleh masyarakat. Sebagai contoh untuk pembuatan talud di Karang Asem, Sekarsuli, Desa Sendang Tirto, diberikan bantuan 100 sak semen Untuk program pengaspalan jalan di Dusun Klancingan, Widodo Mardan, diberikan bantuan 30 drum aspal. Bantuan berikutnya 30 drum aspal akan diberikan oleh Bupati, bilamana pengerjaan jalan oleh masyarakat rampung dan dengan hasil baik.

Barangkali banyak makna yang tersirat dalam kegiatan swadaya masyarakat di berbagai dusun di Kabupaten Sleman, yang didorong oleh dukungan pemerintah daerah. Makna utama adalah, bahwa masyarakat mempunyai kesadaran untuk menata lingkungannya sendiri. Kesadaran yang telah ada semakin berlipat ganda dalam berbagai bentuk, baik dalam kontribusi tenaga untuk gotong royong, iuran regular dan kontribusi spontan. Dipihak lain, kondisi dan dinamika yang telah tercipta di tengah masyarakat itu, semakin meningkat dengan adanya apresiasi dan dukungan oleh pemerintah. Dalam hal ini Pemda Kabupaten Sleman, memberikan apresiasi & dukungan dalam penyediaan DGR, bantuan aspal, semen dan stimulans lainnya.