Senin, 19 Oktober 2015

MUSTIKA ADAT ALAM MINANGKABAU










Saat ini, orientasi nilai budaya orang Minangkabau semakin tidak jelas. Hal ini antara lain tercermin dari tidak jelasnya posisi gender pada kekerabatan matrineal serta tidak adanya pranata budaya yang mencakup seluruh alam Minangkabau yang berfungsi secara maksimal.

Sementara itu, nama besar orang Minang, yang selama ini selalu mewarnai pentas nasional,  kini hanya tinggal kenangan. Hal tersebut disebabkan oleh karena terjadi degradasi kepemimpinan orang Minang, mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Hal tersebut sangat disayangkan, karena tidak ada upaya  generasi muda Sumatera Barat untuk membangun kebesaran seperti masa lalu, yang terjadi malah sebaliknya yakni, membangun kesadaran sejarah palsu.

Kondisi tersebut di atas di perparah lagi oleh kebudayaan lokal, yang tidak lagi mampu berperan sebagai benteng moral di tengah masyarakat, makin derasnya pengaruh negatif globalisasi, yang nyata-nyata merupakan ancaman kian memudarnya semangat tradisi lokal.

          Kekhawatiran itu juga muncul akibat perkembangan informasi dan teknologi serta dampak globalisasi yang bila tidak diluruskan maka diyakini generasi mendatang tidak lagi mengenal sendi-sendi budaya Minangkabau.

Tradisi-tradisi seni budaya yang berbudi luhur setidaknya diharapkan dapat mengangkat harkat dan martabat, sehingga perlu dipertahankan dan dikembangkan, karena seni ini sekaligus sebagai benteng moral untuk menghadapi berbagai pengaruh negatif dari globalisasi.

Panakiak pisau sirawuik
Batungkek batang lintabuang
Salodang ambiak ka niru

Sa titiak jadikan lawuik
Sa kappa jadikan gunuang
Alam ta kambang jadikan guru

Text Box: 1!Filosofis yang terkandung dalam bait-bait di atas, apabila dikaji secara seksama sangatlah dalam maknanya. Dan makna tersebut juga yang mendorong penerbitan buku yang berjudul "Mustika Adat Alam Minangkabau" ini. Karena setidaknya kehadiran buku ini diharapkan akan dapat menjawab sebagian persoalan di atas.

Semua itu juga tidak lepas dari kegundahan serta kekhawatiran akan kehilangan, jika adat tergilas serta syarak yang tidak kunjung bangkit lagi. Maka disinilah titik persoalan dimulai, karena Minangkabau akan bertukar tuan, dimana adat hanya akan dijadikan barang pajangan, terkunci dalam musium. Dari itu, jadikan masa lalu sebagai pelajaran yang bisa dipetik untuk kemajuan masa sekarang dan akan datang.

Dalam rangka itulah buku ini diterbitkan yang  bermuara kepada tujuan:

·         Menggali kembali nilai-nilai budaya Minangkabau untuk menyelamatkan peninggalan budaya dari nenek moyang kita.
·         Memberikan kontribusi pemikiran yang bersumber dari Adat Alam Minangkabau. Dari situ diharapkan buku ini menjadi salah satu acuan bagi generasi penerus kedepan.
·         Sosialisasi budaya kepada masyarakat dalam menyikapi setiap perubahan budaya ditengah hegemoni budaya Barat.
·         Mendokumentasikan gagasan-gagasan yang konstruktif yang berwawasan jauh kedepan untuk melestarikan budaya yang menjadi ciri khas dari suku bangsa yang ada di negeri ini.

Mandaki bukik ka panasan
Manurun ngarai si anok
Ta tumbuak di parantian
Di tapi tumbuah rimbo lalang

Di susun gurindam di ambahkan
Antah buruak antah mo elok
Hutang di ambo manyampaikan
Tujuan baiak  nan  kito hadang

         Cakupan isi buku ini terdiri dari delapan bahagian yakni; Bagian Pertamo “Nan Tasirek”, Bagian Kaduo “Urang Sumando”, Bagian Ketigo “Nasihat dan Asal Usul”, Bagian Kaampek “Tujuah Kalarasan”, Bagian Kalimo “Tantang Pangulu”, Bagian Kaanam “Mulo Pasambahan dan Batimbang Tando”, Bagian Katujuah “Pasambahan Baralek”,  dan  bahagian terakhir yakni Bagian Salapan  adalah “Sejarah Minangkabau”.

Pada bahagian awal dukungan dan sambutan dari Pengurus  Gebu Minang Pusat dan Badan Pembina YPMUI.  Secara khusus dalam lampiran disertakan; Daftar Pustaka, Profil Yayasan BMS dan YPMUI  dan profil Penulis, publikasi dan Editor.


            Tentu saja dalam buku ini ditemukan sejumlah kekurangan dan kejanggalan. Untuk itu kami harapkan saran dan masukkan dari seluruh masyarakat Minangkabau dan masyarakat  pembaca. 

Ngakak Koruptor dan Politikus




Banyak ketawa akan semakin terhindar dari penyakit jantung. Namun  “Ngakak Koruptor & Politikus, Semangat  Pemberdaya”, bisa-bisa merusak jantung anda, kalau ketawa terpingkal-pingkal, tanpa dibarengi tangisan sebagai kontrol.

Buku ini merupakan kumpulan pengalaman langsung selama lebih 40 tahun aktif dalam pemberdayaan masyarakat, baik saat masih di LP3ES, LPPSE maupun di Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS). Juga petikan catatan  saat aktif di Formasi Indonesia, Asosiasi Keuangan Mikro, AKPPI, JKPM  dan jaringan LSM Perkotaan, insya Allah terbit tahun 2014 ini.

Isi buku terbagi dalam tiga bahagian. Bahagian pertama tentang Ngakak Koruptor dan Pemberdaya dengan 59 topik. “Seorang teman bercanda dengan temannya. Beranikah meludahi koruptur yang lewat di depan anda?. Mas; “Ludah saja jauh lebih berharga, lebih baik saya telan dari pada meludahi koruptor itu”. Bahagian kedua, Semangat pemberdaya, dengan 67 topik. Dalam dunia pemberdayaan selalu menjadi penekanan  strategi, yakni:

“If you are planning for a year, sow rice,
If you are planning for a decade, plant trees,
If you are planning for a life time, educate a people,
If you are planning for milyader ……  jadilah koruptor”

Sementara bahagian ketiga, Ngakak dan Miris Wong Cilik, dengan 80 topik. Misalnya, dalam acara reunian dengan teman-teman lulusan Sekolah Dasar angkatan 70 an, selalu saja akan bercerita kisah-kisah nostalgia dimasa sekolah tingkat dasar itu. Fokus obrolan akan menggelinding pada pendidikan dan karir serta keluarga. Pastilah ada yang sudah meraih jenjang pendidikan tinggi Strata 3, Strata 2 dan Strata 1, dan ada pula yang hanya sampai ke tingkat Sekolah Lanjutan Pertama dan Atas.

Pandeka nggak mau ketinggalan. Dengan bangga menceritakan bahwa dia meraih S.Sos dan M.Si. Teman-teman heran, karena semua tahu bahwa dia hanya lulusan SMA. Emangnya kamu kuliahnya kapan dan dimana?, Pandeka dengan semangat ngoceh ”Saya lulusan luar negeri, S.Sos  saya adalah Sering Salahin Orang Sekitar dan Maha Tahu Semua Ilmu, ya M.Si”.


Selain itu, inspirasi dan bahan buku ini juga berasal dari teman-teman dan dari berbagai media, situs dan dunia jejaring sosal.  Substansi dan makna dari buku ini diharapkan dapat memacu semangat para pemberdaya dan orang yang peduli atas sesama serta memperjuangkan kejujuran. Penerbitan buku ini juga merupakan upaya penggalangan dana bagi kegiatan yang dijalankan Yayasan BMS dan mitra.

BAHASA MINANG POPULER (Minang Taseba)


Penulisan buku ini dilatar belakangi oleh tiga alasan. Pertama, para generasi muda terutama yang dirantau yang enggan ikut aktif dalam peguyuban dan pertemuan yang menggunakan bahasa Minang. Ketika ditanyakan, alasannya sederhana, “kami ingin ikut, tapi kami tidak mengerti yang dibicarakan dalam pertemuan itu”.

Realitas dalam kehidupan sehari hari, pada umumnya keluarga perantau jarang menggunakan Bahasa Minang dalam komunikasi sehari hari. Prof. Drs. H Satni Eka Putra, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Barat menekankan bahwa “Bahaso Manunjuakkan Bangso” dengan bahasa yang jelas identitasnya dengan tutur bahasa yang sopan dan santun akan menggambarkan identitas dan kepribadian orang itu. Dengan kata lain kalau kita telah “melupakan” bahasa kita sendiri berarti kita kehilangan identitas kita, jati diri kita.

            Alasan kedua adalah dorongan untuk memberikan fasilitas bagi masyarakat Indonesia dan juga warga asing untuk mempelajari bahasa Minang. Dengan adanya buku “Bahasa Minang Populer” ini, proses mempelajari bahasa Minang lebih mudah. Karena tempat khusus untuk mempelajari Bahasa Minang, hanya di Perguruan Tinggi. Malahan Dr. Fasli Jalal. Ph.D ketika itu menjabat sebagai Direktur Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda”. Para penulis tidak banyak yang berminat untuk berkarya dalam bahasa Minangkabau. Disamping minat baca bahasa Minangkabau khususnya di Ranah Minang amat rendah. Hal ini dibuktikan dengan semakin sulitnya kita menemukan buku-buku berbahasa daerah Minangkabau di Ranah Minang, apalagi diluar daerah Ranah Minang. Hal ini sejalan dengan hasil “Mupakat Bandung pada point 3”

            Alasan berikutnya adalah membantu siswa dalam memahami Bahasa Minang dalam jenjang pendidikan formal, dasar dan menengah. Kalau anak-anak dirantau tinggal di Bekasi, maka ada muatan lokal mata pelajaran bahasa Sunda demikian juga anak-anak yang belajar di Jawa Tengah akan mempelajari Bahasa Jawa, begitu pula didaerah lain di tanah air Indonesia tercinta.

            Buku ini terdiri dari Sembilan Bab yaitu Bab I, Pendahuluan, Bab II, Bahasa Minangkabau serta hubungan dengan Bahasa Indonesia, dan Bab III adalah tentang Perbandingan kosa kata dalam bahasa Minangkabau dengan kosa kata dalam bahasa Indonesia. Isi Bab IV, Pronomina dan Kata Sapaan, Bab V, Pemahaman kelas Bahasa Indonesia, Bab VI, Imbuhan dan Bab VII, Pembentukan Kalimat. Pada bagian akhir dilampirkan Daftar Pustaka, Daftar Istilah, Lumbuang Kato, Kunci Jawaban dan Biodata Penulis.


            Buku ini menarik dan penting bagi remaja anak rantau dan di kampung halaman serta etnik lain dan warga asing yang ingin mendalami bahasa Minangkabau.

HIDUP BERAKAL, MATI BERIMAN





         

          Buku dengan 222 halaman ditambah pengantar dan sambutan dari sejumlah toko Minangkabau seperti Dr Muchtar Naim, Drs Azmi Dt Bagindo, DR. H Suhairy Ilyas, MA,  ditulis oleh Ir H Taufi Bey St Permato, Insyaalah akan diterbitkan tahun 2015 nanti.
  
Lingkup  isi buku ini dibagi dalam delapan bahagian, yakni; Sejarah ringkas Minangkabau. Surau Dalam Adat Salingka Nagari, Surau dan “Sumpah Sakti”,  Surau Cetak Generasi Baru, Hidup Berakal Mati Beriman, Mengapik Daun Kunyik, Surau dan Minangkabau Kini dan Mari Bersurau.

Hidup Berakal dan Mati Beriman Ini, adalah  buku kedua yang disusun  oleh penulis, setelah buku. “Rao-Rao, Tanah Katitiran di Ujuang tanduak” tahun 2002. Penulis juga editor buku “Mambangkik Batang Tarandam Minangkabau di Tapi Jurang”, 2013.  

“Belanda berpagar besi, Minangkabau berpagar adat, adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, menjadi pijakan yang kuat. Surau salah satu alternatif  untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam, “Sumpah Sakti” itu.


Minggu, 04 Oktober 2015

BERSAMA MASYARAKAT MENATA KOTA

Pengalaman lapangan dalam pemberdayaan masyarakat demikian berharga. Karena sering kekeliruan yang dibuat sebelumnya  berulang kembali. Baik pada tatanan kebijakan, penyusunan pogram maupun pelaksanaannya.  Pengulangan  itu sangat mungkin terjadi oleh pelaku yang sama dan semakin besar kemungkinan nya bagi pihak lain. Demikian banyak pengalaman berharga, raib bersama pelakunya.

Sebagian rangkaian pengalaman itu, sempat dicatat, ditelaah dan ditulis dan sebagian nya di publikasikan pada media cetak di Jakarta, Bandung dan Semarang. Juga di “share”  dalam situs AKPPI, P2KP, AKM dan BMS Foundation serta bloger pribadi. Termasuk juga berupa makalah yang disajikan dalam seminar, lokakarya dan diskusi.

Buku ini merupakan kumpulan dari tulsan itu yang dibagi dalam lima bahagian,  yaitu; Tantangan Pembangunan Kota, Rumah Bagi Wong Cilik, Muatan lokal, Rakyat Miskin Kota dan pada bahagian kelima sengaja ditampilkan beberapa buku pilihan dan profil Yayasan BMS serta  profil penulis.

Tiada maksud lain, hanya untuk berbagi kepada para penggiat pemberdayaan dan pihak yang peduli pada persoalan kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakpastian di sekitar kita. Walau disadari, akan ditemukan kemungkinan keterbatasan narasi, data dan kekurangan lain. Untuk itu, kucuran saran dan kritik sangat diharapkan. Penghargaan yang tinggi pada istriku Hj. Yulinar ismail yang memberikan dukungan optimal dalam pilihan karis sebagai pemberdaya masyarakat.

Buku dengan format berukuran 14,5 x 21 cm dengan jumlah halaman keseluruhan 180  halaman, masih bersifat dummy dan insya’allah bilamana ada sponsor akan diterbitkan segera. Kontak dan informasi BMS Foundation atau YPMUI Perumahan SPS D4 No. 3 Puri Indah, Jakarta Barat. 021-5803564 atau 0811104249.