Jumat, 30 Oktober 2015

MENANTI MAUT, MARTHIAS PANDU

Otodidak
            
            












Hotel Pangeran, Padang, 9 Mei 2015 menjadi saksi atas  hamba Allah yang telah berkarya sebagai wartawan sejak usia muda. Hari itu berlangsung  Peringatan Hari Pers  Nasional Sumatera Barat dengan peluncuran buku terakhir H Marthias Pandu (MDP)  “ Menanti Maut”.   Buku lebih 300 halaman ini merupakan antologi karangan Marthias Pandu yang belum sempat diselesaikan, ia dipanggil Allah sehari sebelum ulang tahun nya ke 84. Naskah yang sudah tertata baik disunting oleh anaknya Yudha Pandu, diterbitkan oleh Insan Mulia, Publising, Jakarta.

            Di mata Yudha, almarhum merupakan sosok pekerja keras, bermasyarakat dan aktif berorganisasi, bahkan saking cintanya terhadap dunia jurnalistik, di usia senjanya, Pandoe masih tetap berkarya menuangkan pemikiran dan kontribusinya dalam dunia  tulis menulis.

            MDP lahir di Kampung Lawang, Agam, 10 mei 1930. Pandoe merupakan wartawan senior yang berkarya untuk harian Kompas sejak 1970 sampai 1998. Dia adalah seorang wartawan tanpa satu pun gelar akademis jurnalistik yang dimiliki, namun karyanya sebagai wartawan mendapat apresiasi baik dari berbagai pihak.

            Jika ia mengkritik atau mengomentari suatu persoalan, karena berdasarkan fakta, punya catatan dan data sejarah yang baik serta argumentasi kuat. Melihat pendidikan formal yang dimilikanya hampir tidak masuk akal jadi “ratu dunia” sebutan untuk wartawan masa silam. Kemudian beralih nama jadi “kuli tinta”

Karya Besar

             Pada usia ke 80 tahun (2010, MDP  meluncurkan buku “Jernih Melihat Cermat Mencatat” saat itu dihadiri tokoh-tokoh pers nasional. Bagi Pandoe, menulis harus terus dilakukan, meski tak lagi bekerja pada perusahaan pers. Menulis juga bisa menghindari dari kepikunan. “Pensiun dari wartawan boleh saja, tapi pensiun untuk menulis, bagi seorang wartawan sejati itu tidak mungkin bisa, serdadu tidak akan pernah mati” ungkap MDP  ketika berbincang dengan Padang Ekspres, 31 Desember 2013. Menerbitkan buku kumpulan tulisannya yang berjudul, A Nan Takana (2001),  diterbitkan Kompas Jakarta.
           
            Ketika pulang ke  Sumbar, dia mendirikan suratkabar media Aman Makmur. Media ini bertujuan membakar semangat juang masyarakat Sumbar, “Kami mencoba memberitakan kejadian-kejadian, serta suara-suara masyarakat Sumbar untuk bangkit”  kata MDP  ketika itu. Bahkan, saking kritis medianya sering diperingatkan pemerintah dan ditutup sementara, bahkan dibrangus. “Namun itu bukan hambatan bagi kami untuk mengedepankan perjuangan masyarakat Sumbar” tambahnya.

            Kami ingat betul ucapan MDP. “Kejujurab dan Integritas, sangat penting bagi seorang wartawan, Kemudian baru kecerdasan kurang  bisa diterima dan belajar, tapi kalau tidak jujur dan tidak berintegritas, ini tidak bagus bagi dunia wartawan.

            Menyimak  MDP hingga akhir hayatnya,  bisa dipetik  butir yang  bermakna terhadap profesi jurnalistik. Menjadi seorang jurnalis tantangannya adalah membangun kekuatan diri dengan kejujuran dan integritas tinggi. Kemudian baru diikuti oleh kecerdasan atau wawasan yang luas, sehingga bisa melihat persoalan dengan jernih dan cermat dalam mencatatnya sehingga menjadi informasi yang tepat bagi masyarakat.

            MDP  bekerja sebagai jurnalis pertama kali di harian Abadi Jakarta (1952-1955); reporter harian Pemandangan Jakarta (1956-1958). Tahun 1959-1960 kembali menjadi reporter harian Abadi Jakarta. Selanjutnya  pada tahun 1961-1962 dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana pada harian Semesta Jakarta. Setahun kemudian (1963-1970) menjadi pemimpin Redaksi harian Aman Makmur di Padang.

            Dari tahun 1970-1990 menjadi koresponden harian Kompas Jakarta dan merangkap Pemimpin Redaksi harian Sriwijaya Post di Palembang. Tahun 1994-1995, menjadi redaktur senior di harian Nustra Post, Bali. Saat memperingati ulang tahunnya yang ke-70.

King Maker

            MDP  adalah wartawan senior, yang dinilah seorang wartawan penting di Indonesia. Saya masih ingat, ketika almarhum meluncurkan buku keduanya di Jakarta, H. Rosihan Anwar (alm) yang dijuluki, “Ayatullah wartawan Indonesia” itu dengan nada berbisik berkata bahwa ia hadir karena “Iko kan acara si Pandoe, kalau indak, ambek cah! / Ini kan acaranya si Pandu, kalau bukan, nytar dulu, atau nggak datang ”. (Ini kan acaranya si Pandu, kalau bukan dia, ya ntar dulu).

            Dikenal sebagai wartawan politik harian Abadi di Jakarta, pimpinan Soeardi Tasrif yang sudah diberangus penguasa, pada awal 1960-an Marthias Doeski Pandoe pulang ke Sumatera Barat bersama Mohammad Dharmalis dan Sjaifullah Alimin. Tiga serangkai wartawan ibu kota itu pulang kampung karena mendapat tugas dari Menteri Pedatam Chaeful Saleh dan Menteri Penerangan Mr. Mohanmad Yamin yang kebetulan urang awak untuk menerbitkan sebuah surat kabar untuk membendung pengaruh komunis yang meluas di Sumatera Barat yang saat itu sudah ibarat “nagari nan dialahkan garudo” pasca perang PRRI (1958-1961), serta untuk menegakkan kembali harga diri masyarakatnya. Maka terbitlah harian Aman Makmur di Kota Padang.

            Banyak kisah yang sudah ditulis tentang eksistensi MDP di Sumatera Barat, di antaranya mengenai keakrabannya dengan para pejabat, malahan suaranya didengar sehingga ia dijuluki seorang “King Maker”, berperan dalam proses pengangkatan seseorang untuk jadi kepala daerah seperti gubernur, bupati dan walikota.

            Pengalamannya setelah berbulan-bulan naik bus dan berjalan kaki, ia pun sampai di Lampung, di ujung selatan Pulau Sumatera. Karena saat itu tak  ada kapal, si Pandoe pun nekad naik sebuah biduk (perahu kecil), lalu susah payah mengayuh biduknya di Selat Sunda selama satu bulan, sehingga akhirnya Pandoe merapat di Pulau Jawa, lalu mendapat kerja di ibu kota Jakarta. MDP  itu sangat hebat, dengan kemauan baja dan usahanya yang keras untuk merantau. Ia idola kami yang entah kenapa sejak kecil ingin merantau. Ia idola sebab rantaunya paling jauh di seberang lauik basa.

            Tapi danga diang, gagal di Jakarta indak baa doh. Samo jo karam di lauk basa! Indak kadipagalakkan urang doh. Seorang tetua perantau lain pun nimbrung: “Tapi jan karam di tabek dangka di kampuang, malu awak”

Kritis dan tegas

            Sifat-sifat beliau yang lain yang dapat diteladani adalah pekerja keras dan pantang menyerah. Meski tidak memiliki pendidikan tinggi dan juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan jurnalistik, namun mampu dan sukses berkarir di bidang jurnalistik. Selalu menggali ilmu jurnalistik secara otodidak dan selalu membaca buku.

            Meskipun telah memasuki usia pensiun, beliau tidak ingin berpangku tangan dan menyerah melihat keadaan, membaca dan menulis tetap menjadi kegiatan utama. Dalam mengisi kebutuhan rohani, beliaupun tekun dan taat menjalani aktivitas ibadah di masjid. Oleh masyarakat di sekitar jalan karet, beliau diangkat sebagai ketua pengurus masjid Al Hidayah yang tak jauh dari kediaman beliau.

            Menurut beliau, kebiasaan membaca dan menulis itulah yang membuat beliau tidak pikun dan ingatannya tetap tajam. Sedangkan kegiatan di masjid membuat beliau tetap bersemangat, meski terus beranjak tua.

            “Buku adalah guru yang tak pernah marah”, merasa benar dengan ungkapan itu dalam dirinya. Lelaki 80 tahun itu masih saja bergelut dengan guru-gurunya di sebuah ruang perpustakaan pribadi. Tidak hanya sekedar membaca, dia juga terampil menulis, entah itu dari bahan-bahan bacaan atau dari penglihatan dan pengamatan.

            Pemimpin redaksi Kompas dan orang nomor satu Gramedia Group Jacob Oetama menjulikinya sebagai Gubernur Swasta Sumatera Barat. Meski kadangkala disampaikan secara berseloroh, namun  tentu tak sembarangan Jacob Oetama memberi beliau julukan tersebut. Saya menyaksikan sendiri bahwa pengaruh beliau saat itu memang hampir setara dengan Gubernur. Kata-kata dan nasehat beliau memang didengar dan diikuti oleh pejabat-pejabat dan tokoh-tokoh Sumatera Barat saat itu. Mungkin oleh sebab itulah beliau dijuluki sebagai Gubernur Swasta Sumbar oleh pak Jacob.

            Hal yang serupa juga dirasakan oleh mantan ketua PWI Sumbar yang sekarang menjabat sebagai salah seorang komisioner di KPU Sumbar, M Mufti Sjarfie yang juga satu kampung dengan almarhum. Mufti bercerita bahwa Pandoe adalah sosok guru bagi wartawan muda di zamannya. Sosok yang bisa masuk ke segala lapisan tanpa membeda-bedakan membuat ia dikenal banyak orang.

            “Kenal figure, berarti kenal sumber berita, berarti memiliki akses ke sumber informasi. Kemampuan itu termasuk  diperlukan oleh wartawan yang melaksanakan pekerjaannya. Dalam kepustakaan tentang jurnalisme, hal itu disebut fraternization, meskipun kurang pas, boleh diindonesiakan sebagai persaudaraan.

            MDP  memang gampang akrab dengan siapapun, termasuk sumber berita. Keakraban itu modal memperoleh informasi selengkap mungkin. Awal keakraban adalah kepercayaan, trust. Dengan tabiat demikian, tak heran Bung Marthias dikenal, diakrabi, dan disegani oleh berbagai berbagai kalangan” (Jernih Melihat Cermat Mencatat 2010).

            “Mengesankan dalam hati saya tulisan Bung Marthias dalam feature-feature nya, yang tak terbatas minat kesalah satu bidang, tetapi entah karena inklinasinya yang generalis mungkin karena posisinya sebagai koresponden, dia merambah ke semua bidang. Bung Marthias menulis dengan hati dan komitmen demi kemashlahatan umat manusia. Senantiasa tampak ada pergaulan antara apa yang terjadi di luar sana dan apa yang berkecamuk dalam sini, dalam hati. Ia tidak hanya menulis sekedar business as usual, tetapi juga dalam hati”

            “Saya tidak melihat karengkang dalam diri MDP. Yang ada hanya gendeng, kata orang Jawa, gilo-gilo baso, kata orang Padang, dan kreatif, kata orang Jakarta.

Menggagalkan PT. Semen Padang Dijual

                
Almarhum MDP kembali diberikan penghargaan oleh masyarakat Minangkabau dan PT. Semen Padang atas keberhasilannya menggagalkan terjual nya PT. Semen Padang kepada investor asing.  Seperti testimoni Azwar Anas, Basyir Basyar tentang peran Alm. H. Marthias Dusky Pandoe pada tahun 1968 menggagalkan PT Semen Padang dijual ke pihak asing. Almarhum memperoleh penghargaan Jurnalis Award  dari PT Semen Padang 24 Okktober 2015 yang lalu. 


            “Akan tetapi, pengabdian tulus tanpa pamrih, sesuai talenta masing-masing dan semata-mata hanya demi kesejahteraan sesama, inilah yang selama ini beliau tampilkan. Sebuah catatan keteladanannya yang sudah pasti dipuji oleh semua orang. Melengkapi teladan lain dari Datuk Marthias Pandoe ucapan doa sederhana,tetapi sarat makna. Saya melakukan apa yang bisa di kerjakan hari ini tanpa menunda hari esok”

            Kita kehilangan sosok tauladan, mau berbagi dengan integritas jurnalistik yang tinggi. Saya ingat ketika mampir di rumah Mak Pandu (panggilan akrab thd Mamak) betapa semangat hidup dan berkarya yang tinggi. “Bisuak angok den ka di cabuik dek Malaikat, kini masih manulih (Besok nyawa saya akan dicabut Malaikat, hari ini saya masih menulis”. (H. Muchtar Bahar)


Dua Malam di Kediaman Almarhum Al Maghfurlah K.H.M.Syafii Hadzami

Bermalam di villa almarhumah ulama besar Betawi ini tanpa rencana. Adik ipar saya H Emir Fachda  mempunyai menantu cucu beliau, dari anak keempat  Hj. Chalijah  dan Ust. H.Hamdi Rivai. Menginap di rumah beliau di Kampung Inpres, Desa Cipendawa, Pacet, dua km kearah Cianjur dari Istana Presiden Cipanas. Almarhum wafat 7 Mei 2006, dengan usia 75 tahun.

Beliau adalah seorang ulama asli betawi yang menjadi kebanggaan warga betawi. Beliau dilahirkan dari pasangan Bapak Muhammad Shaleh bin Raidi yang asli betawi dan Ibu Mini yang berasal dari Citeurep Bogor pada tanggal 31 Januari 1931 di Pelaju (Palembang) pada saat orang tua beliau bekerja di perusahaan minyak asing di daerah Sumatera Selatan. Beliau dikenal sebagai mahaguru karena kealiman beliau dalam memahami berbagai cabang ilmu agama dan kebanyakan yang menghadiri pengajian beliau adalah para kyai dan para ustadz.

Beberapa Risalah dan Buku Karya beliau seperti 1.Sullamul `Arsy fi Qira`at Warsy.
2.Qiyas Adalah Hujjah Syar`iyyah. 3.Qabliyah Jum`at  4.Shalat Tarawih. 5.Ujalah Fidyah Shalat. 6.Mathmah Ar-Ruba fi Ma`rifah Ar-Riba. 7.Al-Hujajul Bayyinah.
8.Taudhih Al-Adillah. 9.Sumur Yang Tak Pernah Kering.
8.Taudhih Al-Adillah. 9.Sumur Yang Tak Pernah Kering.


Meninggalkan 7 anak dengan 18 orang cucu serta 2 cicit saat dipanggil oleh Allah, sembilan tahun yang lalu, dipenuhi dengan sejumlah. Dalam seminggu rata-rata memberikan tausiah dan pegajian 40 kali. Subhanallah. Keluarga,  sahabat, murid nya ingat saat shalat janazah lebih 70 kali, karena banyak nya jamaah yang ta’ziah.





Malah ketika Gandaria  City mau dibangun,  pemilik proyek meminta  izin beliau dan menasihati jangan lah dibangun, kasian masyarakat. Walau belum 40 hari beliau wafat, Gandaria City dibangun. “Sering-lah membaca surat Ikhlas”, kata beliau.  Istri beliau almarhumah Hj.Siti Khyar binti Aly Yahya mencatat, “ Suatu kehabahagian hidup selama ini, mendampingi Enjid sampai wafat”.

Kita rindu pada sosok hamba Allah seperti ini.

Kamis, 22 Oktober 2015

Menjadi Hamba Peduli










Pengalaman lapangan dalam mengarungi kehidupan dan penghidupan ini  demikian berharga. Baik sebagai professional,  wirausaha sosial, jasa dan perdagangan, da’i dan pendidik, angkatan bersenjata,  kesehatan ataupun di bidang pertanian, kehutanan dan pemberdayaan masyarakat, ”the experience is the good teacher”. Pengulangan itu sangat mungkin terjadi oleh pelaku yang sama  dan semakin besar kemungkinan nya bagi pihak lain. Demikian banyak pengalaman berharga, raib bersama pelakunya.

Penulis adalah sahabat, sejak di bangku pendidikan tingkat sekolah  pendidikan atas, yakni Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Padang, saat kuliah di Intitut Agama Islam Negeri (IAIN)  Imam Bonjol Padang tahun 70 an. Aktif dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan di Persyarikatan Muhammadiyah.  Setelah berusia  diatas 50 tahun kembali dipertemukan di Jakarta, karena kesamaan niat, untuk mejadi hamba yang berguna bagi orang lain, di sisa umur yang dianugerahkan oleh Allah.

Penulis aktif di bidang yang sedikit berbeda, walau masih dalam ranah yang sama yakni pengembangan sumberdaya manusia. Bedanya adalah. H.Muchtar Bahar sejak merantau ke Jakarta, memasuki dunia pemberdayaan masyarakat melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sementara H. Albazar M Arif, sebagai tenaga pendidik di tingkat Ibtidaiyah,  Sekolah Lanjutan Atas dan Peguruan Tinggi.  Catatan renungan, pengalaman dari kedua hamba Allah ini yang telah dipublikasikan di media cetak, jejaring sosial, seminar, pelatihan, ceramah atau pengajian.

Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan  yang dibagi dalam empat  bagian,  yaitu; Hamba dan Khalik, Pendidikan  dan Pemberdayaan Masyarakat.  Pada bagian Keempat, adalah beberapa buku pilihan, profil penerbit yakni YPMUI dan Yayasan BMS serta profil penulis.


“Menjadi Manusia Yang Peduli”, terkait erat dengan nilai-nilai Syariat Islam  yang selalu menjadi acuan hidup dan penghidupan, sejalan dengan hadist Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)”. Dalam hadist lain Rasulullah menngingatkan kita, dari Abu Bakar RA, “Wahai Nabi Saw, siapakah manusia yang paling baik?”. Beliau Bersabda, “Orang yang panjang umur dan baik amalnya”. Ia bertanya lagi, “Siapakah manusia yang jelek?”, Nabi menjawab, “Orang yang panjang umur lagi buruk amal nya”. (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).  Dalam kedua hadist tersebut  dapat disimak makna yang dalam.

Tiada maksud lain, hanya untuk berbagi kepada para pendidik dan penggiat pemberdayaan dan pihak yang peduli pada persoalan moral, kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakpastian di sekitar kita. Kami yakin akan ditemukan kemungkinan keterbatasan narasi, data dan kekurangan lain. Untuk itu, kucuran saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan.




Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Syarak Mangato Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru













Pedoman Pengalaman
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Syarak Mangato Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru
Halaman, x/219
Gebu Minang Pusat, 2011


Menghadapi Berbagai tantangan dan realitas yang tidak kondusif itu, maka tidak ada pilihan, kecuali perlunya sebuah strategi kebudayaan dan politik. Dalam bacaan saya, Naskah Seminar Kebudayaan Minangkabau 2010 telah memberikan kerangka yang relatif komprehensif menyangkut strategi kebudayaan dan politik tersebut. Bagaimanapun kerangka itu memerlukan political will kepemimpinan birokrasi kepemerintahan; dan juga kesediaan kepemimpinan agama dan adat untuk membangun kesepakatan, baik pada tingkat konsep, kerangka, dan praksis konsolidasi kultural suku bangsa Minangkabau tersebut. Tanpa itu, keinginan untuk perubahan kearah lebih baik, bisa berarti bahwa ‘kaum’ Minangkabau itu sendiri tidak mau mengubah nasibnya.

Profesor Azyuamardi Azra memberikan catatan khusus tentang buku ini “Dalam kehidupan sosial budaya, perubahan-perubahan yang dimunculkan pembangunan (modernisasi) Orde Baru, menimbulkan urbanisasi yang berlangsung dan meningkat secara cepat di Sumatera Barat – seperti juga terjadi di banyak wilayah di Indonesia lainnya. Semakin banyak anak-anak muda Minang yang masih bujangan dan yang sudah berumahtangga—baik laki-laki maupun perempuan—yang merantau ke wilayah-wilayah urban, baik di lingkungan Sumatera Barat sendiri maupun ke wilayah-wilayah lain. Nagari, surau dan lubuk tapian pun ditinggalkan; banyak persawahan dan lahan-lahan perkebunan dibiarkan begitu saja menyemak membelukar.



Abrar Yusra, Sastrawan Inspirator






Inspirator

Selasa, 26 Agutus 2015 dapat info dari ponakan bahwa Kanda Abrar dirawat. Info yang didapat dari Fauzi ini diperjelas dengan mencari informasi  rumah sakit dan dimana alamat nya di Bogor. Kanda dirawat di di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat.  Senin pagi itu langsung bertemu anaknya Zam. Uni Da, istri kanda tidak ketemu karena sebelumnya sudah menunggu di Rumah Sakit.

"Abrar Yusra mengalami stroke dan infeksi paru, "kata Dr.Yoeswar Darisan yang langsung menanganinya. Kanda Abrar, jurnalis asal Ranah Minang ini dirawat sejak mendapat musibah serangan stroke pada Senin, 25 Agustus 2015. Beliau berpulang ke rahmatullah dua hari setelah bezuk, Jumat, 28 Agustus 2015 jam pukul 07.50 WIB di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat dalam usia 72 tahun.nda Abrar Yusra mememiliki 4 anak, tiga perempuan 1 laki-laki. Pada jam 13.00 hari itu juga jenazah almarhum dibawa ke kampung halaman nya di Lawang untuk diumakamkan.

Abrar Yusra, jurnalis asal Ranah Minang ini dirawat,  mendapat musibah serangan stroke tidak dapat berkomunikasi lagi. Saya merenung kan betapa beliau memberikan dukungan untuk menjadi penulis dengan memmuat beberapa artikel ketika almarhum menjadi pimpinan Harian Singgalang. Tidak hanya itu dalam setiap kesempatan selalu menanyakan tentang buku baru terbitan LP3ES, tempat saya belajar dan bekerja, lebih 15 tahun, sejak tahun 1976.

Terbayang dihadapan mata kesungguhan dan kerendahan hati kanda Abrar dalam bergaul dengan komunitas perantau Lawang di Jakarta dan sekitarnya. Selalu setiap ada acara sosial  belau hadir. Ketika saya kemukakan akan menulis buku humor urang awak “Kuncindan dan Kurenah Urang Awak” kanda Abrar merespons dengan hangat dan katanya , “ Apo nan bisa uda bantu?. Malah setiap ketemu, selalu memotivasi, Itu Tanjung Dt. Rajo Endah (bako kanda Abrar) jan dibiakan talatak. “Ayo Utai (panggilan rang kampuang ka ambo), banyak urang dikampuang meminta jadi Pangulu”.   

Komunikasi terakhir dengan kanda Abrar adalah 9 Mei 2015, via telpon. Sebelum almarhum meninggal, saya mengetahui bahwa beliau kurang sehat saat berlangsungnya acara peluncuran buku karya terakhir almarhum H Marthias Pandu  dan peringatan hari Pers Nasional, Sumatera Barat, di Hotel Pangeran. Dalam komunikasi ini muncul kegamangan atas kesehatan kanda Abrar, dan dipihak lain kembali   ke kepermukaan  serangkaian  proses  dan pesan yang memberikan inspirasi pada kami anak-anak parak tabu, Lawang, Sumatera Barat.

Karya Hebat

Abrar Yusra lahir di Lawang Agam, Sumatera Barat, 28 Maret 1943 adalah seorang wartawan dan penulis biografi Indonesia. Dia telah menulis banyak buku biografi para tokoh Indonesia, di antaranya  Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan (otobiografi), Komat Kamit Selo Soemardjan (biografi), A.A. Navis, Satiris dan Suara Kritis dari Daerah, Harun Zain Tokoh Berhati Rakyat, Memoar Seorang Sosialis (memoar politik Djoeir Moehamad), Biografi Ir. H Januar Muin dan banyak lagi tokoh Indonesia lainnya

Sebelum menjadi penulis biografi, Abrar dikenal sebagai jurnalis. Ia pernah jadi managing editor selama 9 tahun di Harian Singgalang yang terbit di Padang, Sumatera Barat. Dia juga pernah menjadi guru di sekolah INS Kayutanam, Sumatera Barat, sebelum menjadi. Hijrah ke Jakarta tahun 1987 dengan memulai karir sebagai wartawan freelance. Ketika di jakarta, sempat menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1990-1993).


Abrar Yusra lahir di Lawang Agam, Sumatera Barat, 28 Maret 1943 adalah seorang wartawan dan penulis biografi Indonesia. Dia juga seorang sastrawan. telah menulis banyak buku biografi para tokoh Indonesia.Abrar banyak menulis puisi, cerpen, novel, dan artikel. Tulisan-tulisannya dimuat di majalah Basis, Horison, dan di berbagai koran, termasuk Kompas, Suara Pembaruan, dan Republika. Beberapa karya sastranya juga muncul dalam sejumlah buku bunga rampai, seperti Laut Biru Langit Biru (Ajip Rosidi), Tonggak (Linus Suryadi A.G.),  Siul, kumpulan puisi  dan Puisi Nusantara susunan Kemala. Abrar juga menulis biografi banyak tokoh. (Muchtar Bahar)