Selasa, 26 Januari 2016

Rersensi Buku Manajemen Kematian

Resensi Buku
Mempersiapkan Kematian yang Pasti Datang
(Kompasiana.com, 16 Januari 2016)

 


Selengkapnya :
http:/n/m.kompasiana.com/mjnasti/resensi-buku-
mempersiapkan-kematian-yang-pasti-datang_
5699beea22afbd3b054cc0be



 Oleh  : M.Jaya Nasti

Judul Buku : Manajemen Kematian 
Jumlah Halaman : 198 
Editor : Ahmad Rahadi, Hermansyah dan H.Muchtar Bahar
Terbitan Pertama : Mei 2015 
Penerbit :  DKM Mesjid Al-Hurriyah, Yayasan Insan Kamil,
Yayasan Silaturrahmi, YPMUI, Paguyuban Rumah Batu, BMS Foundation dan Koperasi Syariah Al-Inayah.   


H. Muchtar Bahar, seorang teman dekat,   mengirimi saya buku di atas. Ia adalah salah satu editor buku bersama dua orang lainnya.  Ia mengirimi saya buku itu, mungkin karena kami sudah sama-sama manula. Kami hampir seumur. Ia 65 tahun dan saya 66 tahun. Jadi secara halus ia memberitahu sudah seharusnya saya mempersiapkan diri agar siap menghadapi kematian yang pasti datang. 

Setelah membaca buku ini saya ingin sharing tentang kesimpulan yang saya dapatkan dari buku itu. Memang setiap orang pasti akan merasakan kematian.  Yang menjadi masalah, tidak ada orang yang mengetahui secara pasti kapan kematian akan datang. Seorang sahabat atau kerabat yang kemarin masih ditemui dan baik-baik saja, tetapi hari berikutnya dikabarkan meninggal dunia secara mendadak. Seorang teman baik yang selama ini tidak terdengar mempunyai penyakit kronis yang mematikan, tiba-tiba meninggal dunia.  Pada hal ia masih muda  dan sangat energik. Jadi kematian adalah rahasia ilahi. Kita tidak mengetahui, kapan Allah akan mengirim malaikat pencabut nyawa mendatangi kita. Oleh sebab itu, setiap orang atau keluarga perlu mempersiapkan dan mengelola kegiatan praktis yang perlu dilakukan dalam mengurus kematian. Tujuannya adalah agar menjalani kematian dengan baik sesuai dengan tuntunan agama, khususnya agama Islam. 

Untuk itulah, para editor buku, secara kroyokan menyusun buku “Manajemen Kematian” ini. Buku ini menggunakan format buku panduan (manual book), sehingga sangat memudahkan untuk memahami panduan yang diuraikan. Editor membagi buku ini dalam lima Bagian yang merupakan rangkaian proses dalam mengelola kegiatan menuju kematian yang hasanah sesuai ajaran Islam. 

Bab pertama berisi uraian tentang langkah yang harus dilakukan pada saat jatuh sakit, yang diduga bisa membawa kepada kematian. Tentu saja asumsi yang digunakan editor adalah kematian yang disebabkan suatu penyakit yang dapat membawa kematian. Tapi kematian tidak selalu datang karena jatuh sakit. Bisa juga kematian datang karena mengalami kecelakaan pesawat, karena ditusuk perampok,  peperangan dan sebagainya. 

Namun pada masa damai dan normal, tentu saja,kematian akan datang karena seseorang menderita suatu penyakit. 

Yang menarik adalah petunjuk yang mengingatkan kita selaku pembaca  untuk hanya melakukan pengobatan yang halal, yaitu pengobatan yang dibolehkan oleh ajaran Islam. Sekarang banyak pengobatan yang disebut pengobatan alternatif yang ditawarkan oleh dunia pengobatan penyakit, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya berobat kepada dukun yang membacakan mantera-mantera untuk meminta bantuan kesembukan kepada selain Allah. Hal lain yang cukup menarik yang dijelaskan buku ini  adalah mengenai wasiat tertulis yang perlu dibuat oleh orang yang jatuh sakit yang sewaktu-waktu bisa meninggal dunia.  Wasiat tertulis itu sebenarnya ditujukan untuk orang-orang di luar ahli waris. Ia diberi wasiat untuk diberi sebagian peninggalan, karena jasa-jasanya kepada kita. Jadi wasiat tertulis bukan dibuat untuk memperbesar bagian salah satu ahli waris, karena sudah ada hukum waris (faraidh) yang mengaturnya. Salah satu ketentuannya adalah wasiat itu tidak boleh melebihi sepertiga dari harta atau kekayaan yang dimiliki. 

Bagian Kedua  berisi panduan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh pihak keluarga pada saat menjelang dan setelah kematian. Jadi pihak keluarga harus melakukan sesuatu agar kematian anggota keluarganya sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Yang terpenting, menjelang ajal diusahakan agar anggota keluarga yang sakarat itu bisa membaca dua kalimah syahadah. Hal lain yang menarik pada Bagian ini adalah kisah-kisah kematian. Ada kisah Nabi Muhammad  dan isteri beliau Aisyiah menjelang beliau wafat. Ada pula kisah nyata tentang kematian yang dialami seseorang. 

Misalnya kisah tentang seorang ayah yang pada waktu sakaratul maut, tidak mampu membaca kalimah syahadat yang ditalqinkan oleh anaknya. Pada Bagian ini dijelaskan bahwa kematian itu tidak hanya akan dialami, tetapi juga disertai rasa sakit yang amat sangat saat nyawa ditarik dari tubuh seseorang. Karenanya orang yang meninggal itu sebenarnya memohon kepada orang-orang yang melucuti pakaiannya dan memandikannya agar dilakukan dengan baik supaya tidak menambah kesakitan yang dirasakannya. 

Sedangkan Bagian Ketiga berisi panduan tentang kegiatan pengurusan jenazah. Panduan ini ditujukan kepada pihak keluarga  atau pihak yang bertugas mengurus jenazah, seperti mengapani, memandikan  menshalatkan jenazah. Panduan ini dirasakan penting karena semakin sedikit orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani jenazah. Bahkan bacaan shalat jenazah banyak orang mulai lupa karena jarang dilakukan.   Selanjutnya 

Bagian Keempat berisi panduan mengenai berbagai hal yang perlu dilakukan  setelah atau paska kematian anggota keluarga, atau orang tua. Yang wajib dilakukan adalah melunasi utang-utang yang meninggal. Selain itu pihak keluarga wajib melaksanakan wasiat yang ditulis almarhum, dari harta atau kekayaan yang ditinggalkannya.   Yang perlu pula  dilakukan adalah menjaga silaturahim dengan sanak famili yang mempunyai hubungan dekat dengan yang meninggal. Disarankan agar menjadikan saudara dari ayah atau ibu sebagai pengganti yang meninggal, tentu dengan cara mendekatkan hubungan dengan mereka.   

Terakhir pada Bagian Kelima berisi informasi dan petunjuk yang sifatnya penunjang tetapi perlu dilakukan. Misalnya mengurus akta kematian. Dengan adanya akta kematian maka urusan pembagian warisan dan wasiat bisa dilakukan.  Begitu pula jika ada hak-hak yang meninggal dapat diurus, seperti klaim asuransi, pengalihan dana pada rekening bank dan sebagainya. 

Selain itu, Bagian ini berisi informasi mengenai Taman Pemakaman Umum (TPU), info ambulan dan lembaga-lembaga social  yang bergerak dalam pengurusan orang meninggal. 

Tidak ada gading yang tidak retak, maka buku ini juga memiliki sejumlah kekurangan yang sebaiknya disempurnakan pada cetakan berikutnya. Kekurangan buku ini yang cukup mengganggu adalah kurang konsisten dalam penggunaan dalil.  Sebagian paduan disertai dengan dalil-dalil hadist atau ayat al-Quran. Namun banyak pula yang tidak disertai dalil, sehingga terkesan sebagai pendapat pribadi editor. Kekurangan lain adalah tidak seragamnya cara penulisan, karena disusun oleh 3 editor, masing-masing menggunakan cara dan gaya bahasanya sendiri-sendiri. Sebaiknya ada yang bertugas melakukan penyeragaman gaya bahasa, agar uraian yang disajian dirasakan kompak oleh pembaca. 

Meskipun demikian, buku ini perlu dimiliki dan dibaca oleh setiap kepala keluarga muslim. Setiap orang yang menjadi anggota keluarga pada suatu saat pasti meninggal dunia. Dengan membaca dan mengikuti panduan yang diuraikan buku ini,  hampir segala urusan yang berkaitan dengan kematian akan dapat ditangani dengan baik, sesuai ajaran agama Islam yang dianut.©  


Resensi Buku, Lawakan Orang Padang


KUCINDAN JO KURENAH URANG AWAK
Lawakan Orang Padang  

Oleh : M Jaya Nasti


 









Judul : Kurenah Jo Kucindan Urang Awak
Jumlah Halaman : 317
Penulis :  H. Muchtar Bahar  Sutan Sari Endah, H. Albazar M. Arif St. Sulaeman Ilustrator : Dicksi Iskandar
Cetakan Pertama : Januari 2015
Penerbit : BMS Foundation  

Inilah buku berbahasa Minang yang semuanya berisi hal-hal yang lucu dan lawakan khas Urang Awak. Tentu saja pembacanya haruslah warga Minang yang masih bisa berbahasa Minang. Warga Minang  atau berdarah minang yang tidak bisa berbahasa Minang bisa juga menggunakan buku ini sebagai panduan  untuk belajar Bahasa Minang, bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari orang tua dan kakek nenek mereka, sambil menikmati kisah-kisah pendek yang lucu dan segar. Kucindan adalah kata-kata yang lucu, gurauan dan kelakar, yang menjadikan orang mendengarnya tertawa atau minimal tersenyum. Sedangkan kurenah dapat diartikan sebagai perbuatan atau perilaku yang menciptakan suasana lucu dan tertawa.

Meskipun demikian, dengan pengertian itu, maka sebagian besar lawakan pada buku ini sebenarnya termasuk kategori kucindan, yaitu lawakan atau kelakar yang bertumpu pada kekuatan kata. Tentunya agak sulit menuliskan lawakan dan kelakar yang bertumpu pada kelakuan atau gerakan tubuh yang termasuk dalam kategori kurenah. Sayangnya orang Minang terlalu serius dan jarang tertawa terbahak-bahak. Mereka terlalu sibuk bekerja dan berdagang. Akibatnya secara nasional sangat sedikit pelawak atau pemain komedi yang berdarah Minang. Tukul Arwana misalnya, berasal dari Jawa, meskipun isterinya yang bernama Susy berdarah Minang. Pelawak berdarah Minang hanya diwakili oleh Kiwil,  yang lawakannya sering meniru ucapan Alm. KH Zainuddin MZ.
Berbeda halnya dengan penyanyi berdarah Minang yang stoknya cukup banyak. Musikus dan Penyanyi yang berasal atau berdarah Minang malang melintang di pentas nasional, sejak Nurseha, Elly Kasim, Oslan Husen, Lily Syarif sampai kepada Sherina dan Ariel Noah atau Peterpan. Mungkin hal itu disebabkan orang Minang suka menyanyi dan berdendang. 

Bahkan masih banyak orang Minang yang menyukai lagu-lagu saluang yang dinyanyikan di acara-acara kesenian Minang. Dulu sewaktu masih di kampung, setiap Sabtu saya menyengajakan pulang sekolah melewati Janjang 40 di Bukitinggi untuk mendengar saluang, karena di sana biasanya ada Tukang Saluang dan penyanyinya ngamen.
Buku ini mencoba menjelaskan bahwa sebenarnya dalam khasanah pergaulan sehari-hari, orang Minang juga cukup kaya dengan kata dan perilaku yang berisi atau mengandung unsur kelucuan dan lawakan. Oleh sebab itu, yang dicontohkan di buku ini adalah lawakan yang bersumber dari kata dan perbuatan sehari-hari orang Minang di pasar, di tempat kerja, di rumah, pergaulan suami isteri dan sebagainya. Pengarang membagi buku ini atas lima bagian. 

Bagian Pertama diberi judul Salingka Pasa, yang berisi kurenah dan kucindan dalam kegiatan di sekitar pasar. Bagian kedua berisi kurenah yang terkait dengan sumangaik (semangat) dan kreatifitas. Bagian Ketiga berisi kucindan yang termasuk kategori hikmah. Sedangkan Bagian keempat diberi judul Sakitar Sikola, berisi kucindan dalam kegiatan di sekitar sekolah. Secara keseluruhan, dalam buku ini terkandung 236 kucindan dan kurenah.
Kelemahan buku ini adalah kucindan dan kurenah yang disajikan kurang nendang, tidak cukup  bertenaga untuk menjadikan pembaca tertawa terbahak-bahak. Sebagian besar hanya mampu menjadikan pembaca tersenyum. Mungkin hal itu disebabkan pengarang atau lebih tepatnya disebut editor, terlalu lebar dalam memasukkan lawakan dan kelakar pada kategori yang ditetapkan. Atau bisa juga disebut kurang disiplin dalam memasukan setiap kucindan atau kurenah, sehingga tidak dirasakan adanya perbedaan dalam pengelompokan kucindan dan kurenah.

Mungkin ada baiknya disusun lagi kumpulan kucindan dan kurenah yang lebih spesifik yang disesuai dengan jenis pekerjaan yang banyak digeluti orang minang. Misalnya kelompok kucindan di sekitar rumah makan, karena banyak orang Minang yan membuka restoran dan rumah makan Padang. Lalu ada kelompok kucindan orang berjualan (pedagang), orang kantoran, guru, garin (penunggu) masjid, orang berjalan-jalan (liburan), orang naik haji dan umrah, dan sebagainya.


Meskipun demikian, buku yang dibuat dalam format buku saku ini enak dibaca dan perlu dimiliki. Karenanya buku ini sebaiknya dibawa terus kemana pergi. Dengan membaca buku ini akan hilang kejengkelan dan kemarahan dalam timbul karena banyak persoalan dalam pekerjaan dan dalam berbisnis. Dengan membuka dan  membaca buku ini, kejengkelan dan kemarahan bisa hilang, dan senyum akan kembali mengembang.©     

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/mjnasti/resensi-buku-lawakan-orang-padang_56a73c824c7a61cb0cd1bb4a

Senin, 02 November 2015

COMPANG CAMPING PENDIDIKAN KITA






Sudah lebih setengah abad, upaya untuk memperbaiki layanan pendididikan yang berkualitas dan merata di tanah air, masih  jauh dari harapan.
Walau di segi alokasi anggaran untuk bidang ini telah berada diatas 20 % dari APBN setiap tahun.

Berbagai isu  yang menghimpit dunia pendidikan  Indonesia.  “Kontradiksi kebijakan  yang  tercantum dalam UUD 45 dan amandemen dengan sejumlah kebijakan turunannya dalam bentuk UU.Sidiknas, Peraturan Pemerintah dan berbagai Surat Keputusan” papar Yanti dari Yayasan Kerlip,  yang dikermukakan dalam  Dialog Pendidikan di Wilayah DKI Jakarta, 15 April 2009, di Hotel Ibis, Jakarta Barat.

Muatan Pasal 31 UUD 1945 dan amandemen, dengan tegas menyatakan   bahwa: (1) Seluruh warga negara berhak  memperoleh pendidikan.  (2) Semua warga negara wajib memperoleh pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (4) Pemerintah memprioritaskan pendidikan dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk penyelenggaraan pendidikan nasional.

Berkaitan dengan pasal 31 tersebut, ternyata Pemda DKI Jakarta menjabarkan nya dengan tolak belakang, tanggung jawab  pemerintah bergeser kepada masyarakat. Dimuat dengan jelas dalam Perda DKI Jakarta PERDA No 8 tahun 2006, yakni Pasal 5 (2) Warga masyarakat memberikan dukungan sumber daya pendidikan untuk kelangsungan penyelenggaraan pendidikan. Pasal 7 (4) Orangtua berkewajiban atas biaya untuk kelangsungan pendidikan anaknya sesuai kemampuan, kecuali bagi orangtua yang tidak mampu dibebaskan dari kewajiban tersebut dan menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Pasal 9 Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Akibatnya jelas yang menjadi korban adalah warga didik. Menurut data Dinas Pendidikan DKI Jakarta tahun 2008, jumlah anak putus sekolah di tingkat SMA mencapai 1.253 orang. Lalu, jumlah anak putus  sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencapai 3.188 orang. Untuk tingkat sekolah dasar di Jakarta, pada tahun 2008 masih  ada 571 pelajar yang putus sekolah. Lalu, dari tingkat SMP ada 1.947 pelajar yang juga putus sekolah.Alasan mereka putus sekolah kebanyakan karena kekurangan biaya dan harus  membantu orang tuanya mencari uang.(Monitoring Kewajiban Pemerintah Jakarta dalam  Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Makalah, Yanti Sriyulianti/KerLiP)

Dampak lain nya adalah dari tahun ketahun jumlah anak jalanan di DKI Jakarta dan di berbagai kota sekitarnya tidak lah semakin turun. Jumlah anak jalanan yang berhasil di tarik dari jalanan melalui berbagai program, digantikan oleh anak jalanan pendatang baru dengan jumlah yang lebih besar.

Kompleknya persoalan pendidikan ini, akan semakin parah bilamana memang Pemda DKI akan mengurangi alokasi APBD untuk pendidikan “Biaya pendidikan di Jakarta akan naik hingga dua kali lipat. "Karena DPRD DKI Jakarta menghapuskan Bantuan Operasional Pendidikan dari anggaran pendidikan DKI Jakarta," kata Kepala Dinas Pendidikan Tinggi DKI Jakarta Margani M. Mustar menyatakan dalam acara Seminar Perspektif Pembiayaan Pendidikan di Jakarta kemarin. (Tempointeraktif 29 Februari 2008)

Dalam Dialog  Publik yang digelar oleh Plan International itu, muncul sejumlah kritisi tajam terhadap penyelenggaraan pendidikan,  diantaranya; kompetensi guru, fasilitas proses pembelajaran, buku teks hingga, penentuan standar kelulusan Ujian Nasional yang demikian rendah.

Alternatif pendidikan non formal yang dijalankan melalui Paket A, B dan C juga masih tidak berjalan efektif. Adanya pandangan yang kurang positif tentang kualitas terhadap lulusan ujian persamaan melalui jalur pendidikan non formal.

Dukungan komunitas terhadap penyelenggaraan pendidikan juga masih belum jelas. Komite Sekolah dan Dewan Pendidian yang diharapkan dapat memberikan kontrol dan masukan, lebih banyak berperan sebagai alat dari Sekolah

Itulah compang camping dunia pendidikan kita, yang akan menjadi fokus garapan “Pendidikan Untuk Semua” Education for All/EFA”  yang telah dicanangkan dengan  enam pokok aksi yang dapat menjadi acuan dalam konteks pembangunan pendidikan di DKI Jakarta kedepan:
·         Memperluas dan meningkatkan kesempatan pendidikan pada usia dini, terutama bagi mereka yang terpinggirkan.
·         Memastikan bahwa pada tahun 2015 nanti, semua anak, terutama perempuan, anak-anak yang terpinggirkan dan mereka yang menjadi etnis minoritas, memiliki akses terhadap pendidikan dasar yang bermutu.
·         Memastikan bahwa kebutuhan untuk belajar dari semua generasi muda maupun dewasa terpenuhi melalui terbukannya akses terhadap segala bentuk pendidikan, baik formal maupun informal.
·         Meningkatkan melek huruf khususnya bagi kaum  perempuan, serta meningkatkan akses pembelajaran seumur hidup bagi orang dewasa.
·         Menghilangkan disparitas gender dalam akses terhadap pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005, dan mencapai kesetaraan kesempatan jender pada tahun 2015.
·         Meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan, baik formal maupun informal.


Meskipun potret  pendidikan demikian kusam, masih ada harapan di masa datang. Tentu saja dengan semangat kebersamaan yang konstruktif untuk melakukan perubahan.(Muchtar Bahar)

MUHAMMAD BAEDOWY, PAMULUNG KAYA RAYA

Jika orang menganggap sampah sebagai barang yang menjijikkan, bagi Baedowi justru sebaliknya, sampah adalah harta karun. Dengan sampah kini ia bergelimang rupiah. Meski harus hengkang sebagai auditor di sebuah bank asing dan menjadi ‘pemulung’. Usaha yang dirintisnya sukses, sebagai juragan sampah yang mampu mengekspor dua kontainer biji sampah plastik ke China setiap minggu dengan omset menggiurkan.

Setiap kesuksesan itu memang perlu diperjuangkan. Kerja keras dan peras keringat Baedowy selama bertahun-tahun membuktikan itu. Berawal ditahun 2000 saat ia membidik peluang bisnis sampah plastik. Meski ia mantan seorang pekerja kantoran yang setiap hari berdasi, di sebuah Bank Asing. Baedowy sama sekali tak merasa risih harus bercengkrama dengan tumpukan sampah. Bahkan iapun tak ragu berkeliling berburu sampah ke setiap wilayah siang dan malam.

Hal ini dikemukakannya saat berbagi pengalaman dalam Pembekalan Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (PSP3) Angkatan 24, di Bumi Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, 15 September 2014. Share pengalaman yang saya moderatori disini diikuti oleh 837 orang PSP3 yang berasal dari 33 Provinsi dan akan ditempatkan  di Provinsi lain, selama dua tahun.

Namun daya juang Baedowy cukup kokoh. Ia seorang pejuang tangguh dan pantang menyerah. Ia nekad berbisnis dengan modal awal sekitar 50 juta yang dipakai untuk beli mesin, sewa lahan dan membuat bangunan sederhana. Di tahun kedua akhirnya dewi fortuna pun menyapa, bisnis yang ditekuninya semakin berkembang. Kini biji sampah hasil olahannya diekspor ke China. “Satu kali ekspor bisa mencapai 20 ton. Setiap satu minggu bisa satu sampai dua kontaineran. Mengenai keuntungan ya kira-kira 500 rupiah per kilogram“, ujar pria berusia 41 tahun ini. Dalam sehari mesin buatannya mampu menggiling hingga 3 ton bahan baku sampah plastik meski rata-rata hanya satu ton saja per harinya.

Ujian Bisnis
Kesuksesan yang direguknya tentu tidaklah instan. Di tahun pertama, ia harus menemui beberapa kendala yang hampir saja membuatnya pesimis. “Kendala pasti adalah, bagi saya setidaknya ada dua hal teknis dan non teknis. Non teknis berupa ujian mental. Bisa dibayangkan, saya ini seorang sarjana, mantan pegawai bank yang selalu berdasi, tiba-tiba harus jadi pemulung, tukang sampah, rasa-rasanya setiap orang pun akan malu tak terkecuali orang tua saya. Soal teknis berupa mesin yang selalu ngadat. Hampir di satu tahun pertama saya disibukkan dengan membetulkan kondisi mesin agar bisa tampil prima, “ kilahnya.

Bahkan yang lebih tragis, sebelum itu, ia harus rela hengkang dari rumah kontrakannya karena tak kuat membayar uang sewaan. “Itu adalah masa yang paling menyedihkan dalam kehidupan saya. Saat itu, saya harus menitipkann istri dan anak-anak saya ke rumah orang tua saya. Sepertinya, peristiwa itu akan selalu teringat dalam benak saya” kilahnya setengah mengeluh.

Tapi itu adalah dulu, sebelum ia menemukan sampah sebagai lumbung rejekinya. Baginya, semua itu dijadikan sebagai bahan pelajaran untuk beranjak menjadi lebih baik. Faktanya dengan kerja keras dan restu orang tua, meski dari sampah namun ia bisa menyedot rupiah. “Satu hal yang penting bagi saya, restu orang tua, itulah yang mendongkrak saya hingga berhasil,” aku ayah tiga anak ini.
 
Pemulung dan Mitra

Setelah 16 tahun berlalu, kini bisnis Baedowy semakin bergairah. Untuk bahan baku ia berdayakan lebih dari seratus pemulung. Bukan hanya itu, iapun sudah menggalang kerja sama dengan lebih dari 100 mitra kerja yang terhampar dari Aceh hingga Papua. “Saya bangga bisa memberdayakan para pemulung dan ibu-ibu disekitar pabrik pengolahan sampah. Selain itu, karena saya sudah menggalang kerjasama dengan lebih dari 100 mitra di seluruh Indonesia, secara otomatis masyarakat disekitarnya pun turut diberdayakan. Di setiap satu pabrik bisa mempekerjakan lebih dari 60 orang,” imbuh pria lulusan Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Malang ini dan lahir di Balikpapan.

Untuk mitra kerja, tak segan ia memberikan pelatihan dari nol hingga menjadi piawai yang diadakan di seluruh kota. “Setiap mitra yang membeli mesin dari saya, saya berikan training hingga bisa, bahkan sampah hasil olahannya pun saya siap beli”, ungkap pemilik CV Majestic Buana Group yang bermarkas di Jalan Raya Cimuning, Mustika Jaya, Bekasi ini. Selain memberdayakan para pemulung, yang patut ditiru adalah ia tak pernah lupa sedekah. Secara rutin, Baedowy pun sering mengadakan acara tasyakuran dan sedekah pada anak-anak yatim piatu.

Selain berbisnis, saat ini ia aktif mengajar dan memberikan kuliah umum di beberapa universitas di tanah air. “Sampah adalah masalah besar bangsa kita. Tapi kalau diolah secara baik dan tepat dengan teknologi tepat pula, sampah pun bisa menjadi rupiah. Saya berobsesi untuk menyebar luaskan pengetahuan saya ini kepada seluruh masyarakat”, pungkasnya.

Hasilnya nyata, sebuah Fortuner, Volvo, Kijang Inova nangkring di rumahnya dengan nilai milyaran rupiah. Sebuah pabrik dan Ia juga sedang mengincar lahan seribu meter persegi, satu meternya sekitar Rp 1 juta, yang menjadi tempat pabrik pencacahan botol plastiknya beroperasi selama ini di Kelurahan Cimuning, Bekasi.

Kenyamanan hidup ini datang setelah proses berliku yang hampir mentok pada penyesalan mendalam. Sempat mendapat tawaran bekerja di perusahaan perminyakan di Kalimantan lewat koneksi, ia lebih memilih bekerja di bank asing itu. Tiga tahun bekerja di sini, ia bentrok dengan atasan. Lima pekerjaan yang ditinggal pegawai korban rasionalisasi harus dia kerjakan. ”Tapi bayarannya cuma untuk satu pekerjaan”. Semua ini simbol ”becek”-nya bisnis pencacahan botol plastik bekas yang ditekuninya 14  tahun terakhir.

Manusia Sampah, Bukan Sampah Manusia

Rumah baru ini disebutnya berarsitektur ekstrim minimalis: bentuknya kotak-kotak, hampir tanpa pagar, sebuah tangga beton menjulur dari ruang tamu di lantai dua ke bibir jalan, serta tanpa genting karena beratap dak beton. Nilainya? ”Satu miliar lebih,” kata lelaki ini kalem.

Dia merasakan tak ada balasan apa pun dengan datang ke kantor pagi dan pulang lewat tengah malam. Merasa diperlakukan tidak adil, Baedowy, saat itu berusia 27 tahun, memutuskan hengkang pada 2000. Lantaran kesal, ia menendang tempat sampah di ruang kantor sang atasan, sembari melontarkan ajakan berkelahi. ”Saya tunggu di parkir,” katanya geli, menirukan ucapannya.

Mengingat 14 tahun lalu, saat berhenti jadi pegawai, Baedowy teringat ucapan seorang tamu hotel seberang kantornya di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, pada suatu siang. Tamu itu seorang lelaki tua bercelana pendek yang asyik bersantap siang. Baedowy yang berjas dan berdasi merasa kalah gaya. Penasaran, ia menanyakan bisnis si lelaki tua, yang dijawab singkat, ”Bisnis sampah.” Dia pun membulatkan tekad. Saat itu dia sudah beranak dua dan keduanya masih bayi.

Lelaki kelahiran Balikpapan ini lalu menjajal bisnis pengepul benang nilon kusut, sambil melirik bisnis jangkrik yang sedang booming. Tak beruntung, ia mulai menggarap bisnis pengolahan botol plastik bekas. Tiga orang preman sempat memalaknya saat sedang mengumpulkan botol bekas di pinggiran Kota Bekasi. Tangan kanannya sempat terkena sabetan pisau. ”Mereka saya kejar sampai ke sawah,” kata pria yang kerap berkelahi ketika masih SMA ini. Modal awal bisnis pencacahan botol bekas sekitar Rp 50 juta, yang sebagian besar milik rekan bisnisnya. Mencoba setahun, bisnis pencacahan tertatih-tatih. Mesin rusak melulu, dan bahan baku seret. Awal 2001, bisnisnya kolaps. Dicemberuti orang tua yang menjenguk, ia sempat memulangkan sang istri ke Malang untuk menghemat biaya hidup.

Tiga bulan ia memasang plakat, ”Pabrik Dijual”, tak laku. Saat di titik nadir ini, Baedowy sempat menggugat Tuhan dan mengimingi-Nya perbuatan baik jika diberi kesuksesan. Ia mulai nelangsa teringat kenyamanan sebagai karyawan. ”Saya sangat menyesal berhenti waktu itu,” katanya. Sebuah curriculum vitae kembali disusunnya, meski tidak sempat dikirim untuk melamar. Semangat berusaha Baedowy muncul kembali. Ia mulai sibuk mengoprek-oprek mesin penggilingan yang ringsek itu. Beberapa bengkel mesin bubut di sekitar Rawapanjang, Bekasi, dijabaninya untuk mencari onderdil bekas. Ia pun merutuki desain mesin pencacah miliknya, sambil secara otodidak merancang ulang bagian demi bagian.

Alhasil, ia membuat mesin pencacah sendiri, yang terdiri atas tiga ukuran. Produksi penggilingan botol plastik mulai bergulir. Usahanya mulai mencuat sewaktu didatangi wartawan ketika riuh penutupan tempat pembuangan sampah akhir Bantar Gebang. Maklum, sebagian suplai bodong diambilnya di sini. Dari pemberitaan itu, satu per satu pembeli datang dan menaksir mesinnya. Akhir 2001, mesin mulai laku plus hasil gilingannya semakin banyak dan bersih. Dari sini, Baedowy mengembangkan mitra kerjanya, sebagai pembeli mesin dan penyuplai hasil gilingan. 

Para pembeli mesin gilingnya berhak menjual hasil gilingannya ke Majestic Buana. ”Dan saya wajib membeli,” katanya sambil menunjuk surat perjanjian kerja sama. Pasar Cina yang berkembang pesat menelan berapa saja ekspor cacahan plastiknya. Soal omzet, ia enggan menyebut. Namun ia mengatakan jumlah ekspor per pekan sekitar dua kontainer dengan penjual mesin minimal dua buah per bulan. Ita, 40 tahun, warga Bekasi yang membuka usaha penggilingan di Purwakarta, menjadi salah satu mitranya dari sekitar seratus mitranya sekarang. ”Saya juga mendapat bantuan pelatihan dan pemasangan mesin secara gratis,” katanya. Hasil gilingan Ita dijual ke Baedowy dengan harga pasar.
Regina Pacis, sekolah swasta di Bogor, kepincut membeli mesin pencacah seharga Rp 40 juta-an. ”Kami ingin mengajari siswa bahwa kebersihan juga bisa menguntungkan,” kata Suster Cecilia Hartati. Hasil cacahan para siswa dibeli Baedowy secara komersial. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pun mempercayainya membuat mesin injection plastik. Adapun Pemerintah Daerah Jawa Barat memasukkan namanya menjadi satu dari tiga usaha kecil menengah yang akan diusulkan untuk penghargaan lingkungan Kalpataru tahun depan. Baedowy punya nasihat untuk para karyawan. ”Segera buka usaha sendiri, deh”

Deretan Prestasi

Baedowy yang lahir di Balikpapan, tahun 1973 meraih berbagai prestasi di dalam negeri dan juga di luar negeri. Prestasi ini diberikan pada nya karena usaha, keberhasilannya selama ini, seperti;

·         JUARA 1 Pemuda Pelopor Tingkat Nasional tahun 2006 (Kementrian Pemuda dan Olahraga RI)
·         Juara 1 Wira Usaha Terbaik se-Indonesia, peraih Dji Sam Soe Award 2009 (Seleksi dari 5.100 Pengusaha se-Indonesia, dari berbagai macam bidang usaha)
·         Tokoh Pilihan Terbaik Majalah Tempo 2009
·         Peraih Penghargaan Industri Hijau Tingkat Nasional 2010 (Kementrian Perindustrian RI)
·         Peraih Piagam Penghargaan Liputan 6 SCTV Award 2010
·         Peraih Penghargaan Pria Sejati Pengobar Inspirasi 2010, PT Bentoel Indonesia
·         Peraih Soegoeng Sarjadi Award on Good Governance 2010
·         Peraih Piagam Penghargaan Kalpataru 2010 (Kementrian Lingkungan Hidup RI)
·         Peraih Penghargaan Indonesian – Asean Young Green Soldier Award 2011
·         Pengusaha Favorit Pembaca Majalah Elshinta 2012
·         Country Winner Malaysiia – China Chamber of Commerce Green Award 2013 Kuala Lumpur
Kontak dan keperluan lanjutan dapat dilakukan langsung dengan  Muhammad Baedowy, Majestic Buana Group, Jl. Raya Cimuning 35, Kelurahan Cimuning, Kota Legenda, Mustikajaya, Bekasi Timur. Tel. (021) 7020 1859 (flexi), 081514038689 (HP), Email: majesticbuana@yahoo.com.

Sepuluh Kiat 

Menyimak pengalaman jatuh bangun dari bawah sehingga dijuluki, ”Juragan Sampah, Pemuda Pelopor dan sebutan lain, dapat dipetik sepuluh kiat yang mengantarkan nya  pada kondisi anak muda yang milyader saat ini.

1.   Semangat-semangat! Ketika di PHK dari Bank Asing tahun 2000 dengan jabatan yang lumayan yakni Internal  Auditor, dalam kondisi labil mental, dikritik oleh keluarga dan teman-teman, tidak lah akhir dari semuanya.  Tetap semangat untuk maju.
2.      PHK  14 tahun yang lalu itulah yang membuat dia seperti sekarang. Orang upahan yang menjadi pemilik perusahaan yang cukup besar. Kejadian itu memberikan makna yang dalam bahwa, “Allah maha tahu terhadap hamba Nya”. Lihatlah sudut pandang positif.
3.        Sesungguhnya rejeki itu tidak pernah salah, Allah maha tahu hambanya yang selalu bersyukur. Dan diyakini, bahwa lipat ganda rejeki akan selalu datang bagi kelompok orang yang selalu ingat pada Nya.
4.     Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa, “Jangan jual barang, jual lah Ide”. Saya membuka kesempatan untuk menampung sampah plastik, pelet plastik, dan bahan olahan dari sampah plastik lain. Idenya adalah untuk membuka kesempatan lapangan kerja, untuk itu saya siapkan teknologinya dan pelatihan yang diperlukan.
5.   Buatlah jaringan dengan mitra  dengan mutual benefit.  Saya dapat pelatihan pembuatan mesin pencacah plastik secara gratis, sementara mitra mempunyai kesempatan untuk berkreasi dan uji coba teknologi tersebut.
6.   Tidak perlu malu, pada awalnya saya keliling mengumpulkan sampah plastik di jalanan dan TPU dan mendatangi lapak pengumpul. Orang-orang melihat dan memberikan komentar, “Anak muda keren, kok mau ngumpulin sampah, seperti  pemulung”.
7.   Bilamana selesai sebuah ide dengan hasil yang memuaskan, jangan berhenti. Lakukan penyempurnaan dan cari ide-ide baru.
8.        Berikan juga kesempatan kepada orang lain untuk maju. Misalnya kepada karyawan selalu saya katakan,  ”Segera buka usaha sendiri”
9.  Jangan pelit membagi ilmu. Saya menjual teknologi pencacah plastik dan memberikan layanan penuh tanpa batas waktu. Kalau ada yang berminat untuk mengembangkan nya saya terima dengan baik. Layanan pelatihan juga tanpa batas, pembeli mesin pencacah plastik tidak perlu menyediakan dana bila berada di Jabodetabek. Diluar wilayah itu, mereka cukup sediakan tiket.
10.  Konsisten dengan pilihan. Jangan tergoda kritik atau ajakan untuk pindah kepada kegiatan lain. Dengan berat hati, saya menitipkan istri dan anak di orang tua, agar saya tetap serius dengan ide pamulung dan pengalaman sampah.
1.    
     (.H. Muchtar Bahar, Share Cerita Sukses, Pembekalan P2SP3 Angkatan 24, 15 September, 2014 di Aula Bumi Marinir, Cilandak, Majalah Tempo, Kementrian Pemuda dan Olah Raga, berbagai liputan media cetak dan elektronik).

GURINDAM DUA BELAS, RAJA ALI HAJI


      


      Pelopor Sastra

     Gurindam Dua Belas ditulis oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Riau, pada tarikh 23 Rajab 1263 Hijriyah, atau 1847 Masehi dalam usia 38 tahun. Karya ini terdiri atas 12 Fasal dan dikategorikan sebagai “Syi’r al Irsyadi” atau puisi didaktik, karena berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridhoi Allah SWT. Selain itu terdapat pada pelajaran dasar Ilmu Tasawuf  mengenai; “yang empat”: yaitu syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Diterbitkan pada tahun 1854 dalam Tijdschrft van het Bataviaasch Genootschap No II, Batavia, dengan huruf Arab dan terjemahannya dalam bahasa Belanda oleh Elisa Netscher.

   Dalam pengantar buku kecil Gurindam  Dua Belas, Gubahan Raja Ali Haji, yang diterbitkan oleh Yayasan Tuanku Chalil, Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau, dapat dilihat;

Bermula inilah rupanya syair

Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang di dalam gundah gulana
Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna

Inilah arti gurindam yang dibawah syatar ini

Persamaan yang inda-indah
Yaitu ilmu yang memberi faedah
Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur


Pulau Penyengat

      Pulau kecil yang panjangnya 2 Kilometer dan lebar kurang dari 1 Kilometer, merupakan sala satu pulau yang termasuk bagian dari kotamadya Tanjung Pinang, dengan status Kelurahan semenjak terbentuknya provinsi Kepulauan Riau. Pulau Penyengat ini terletak di bagian barat Pulau Bintan tepat  di depan Kota Tanjung Pinang, pada 0°56’ Lintang Utara dan 104°29’ Bujur Timur, dipisahkan oleh sebuah selat yang dapat dihubungkan dengan perahu-perahu kecil yang disebut dengan pom-pong, sekitar kurang lebih 12 menit.

     Pusat perkembangan ilmu dan budaya Melayu di Rantau Semenanjung Tanah Melayu dan Timur Nusantara adalah di Pulau Penyengat. Sejak dulu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan yang sangat mulia dan tinggi sekali derajatnya. Sehingga dalam bidang budaya, perkembangan yang sangat pesat adalah bahasa Melayu.

Salah seorang tokoh yang sejak awal telah merupakan seorang pengarang yang produktif adalah Raja Haji Ahmad Engku Tua, putra tertua Raja Haji Fisabilillah. Dia telah menulis beberapa buah syair, antara lain Syair Engku Puteri, Perang Johor dan Raksi serta membuat kerangka tulisan untuk buku Tuhfat An Nafis (Anugerah yang Berharga) yang kelak diteruskan oleh anaknya Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji (1809-1870), merupakan tokoh budaya yang kompleks. Dia juga seorang pujangga, seorang ahli siasat dan politikus, seorang ulama dan seorang ahli bahasa. Dari tangannya dihasilkan Gurindam 12 yang terkenal.

  Karya-karya besar seperti Gurindam XII, Bustan Al Katibin (Kamus Bahasa Melayu). Kitab Pengetahuan Bahasa, Tsamarad Al Muhimmah (Kitab Pegangan para Pejabat Pemerintah),

      Karya lainya adalah Muqoddimah Fi Intizam (Undang-Undang), Syair Abdul Muluk, Tuhfat Al-Nafis (Sastra Sejarah), Silsilah Melayu dan Bugis (Sastra Sejarah), Syair Suluh Pegawai, Syair Siti Shianah, Syair Sinar Gembala Mustika Alam dan sejumlah buku lainnya.

    Masih terdapat sejumlah pengarang lainnya menurut garis keturunan merupakan keluarga dari Raja Haji Ahmad, seperti Raja Saliha (saudara perempuan Raja Ali Haji), Raja Safiah (anak Raja Ali Haji) dan lainnya. Termasuk nama penting Raja Ali Kelana, yang jabatan terakhirnya yaitu calon Yang Dipertuan Muda. Salah satu buku terpentingnya adalah Pohon Perhimpunan (Laporan Perjalanan dan Inspeksi ke Pulau Tujuh), dan Abu Muhammad Adnan yang mengarang sejumlah buku tentang Bahasa dan Budi Pekerti

Gurindam Fasal yang Ketiga

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam Fasal yang Kesebelas

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela
Hendak memegang amanat
Buanglah khianat
Hendak marah
Dahulukan hujjah
Hendak dimalui
Jangan memalul
Hendak ramai
Murahkan perangai.

Sarat Nilai

    


    
    Gurindam dua belas, sarat dengan nilai, dalam kontek hubungan horizontal sesama manusia dan hubungan vertikal dengan allah Pencipta. Termasuk menjadi penekanan Raja Ali haji, adalah hubungan sesama manusia dan juga bagaimana kepemimpinan penguasa yang adil dan bijaksana.


     

     Namun saat ini, tidak banyak telaah tentang makna yang disampaikan oleh Raja Ali Haji. Bilamana ada acara –acara  seminar, lokakarya, pertemuan atau wisata melalui pulau Batam,  umumnya lebih cendrung menyebrang ke Singapura untuk berbelanja. Kunjungan ke Pulau Penyengat  dengan biaya murah, boleh dikatakan sangat kecil.  Ini terlihat ketika acara seminar Lansia dalam rangka memperingakti Hari Lanjut Usia Internasional Berlangsung tanggal 25-30 Oktober 2013 di Batam, yang diikuti oleh 150 peserta terdiri dari Wakil Bupati/Wakil Walikota, Komda Lansia, Bappeda tingkat Kabupaten, Pejabat instansi terkait tingkat Propoinsi, hanya  sepertiganya yang ikut serta dalam kunjungan ke Pulau Penyengat. (H.Muchtar Bahar),